Inspirasi dari Papua: Ayahku dan Harga Sebuah Impian.

Penulis: Alvionita Kogoya.

Jika ada seseorang yang cukup gila untuk mempertaruhkan seluruh hidupnya, mengajar di gedung sekolah yang retak dimana-mana dan hampir roboh, dengan puluhan anak- anak miskin yang bandel, tanpa di bayar sesen pun, orang itu adalah ayahku. Dan aku sangat bangga memiliki Ayah seperti dia.

Cahaya Untuk Nduga

Kampung halamanku terletak di Kabupaten Nduga, Papua, sebuah tempat terpencil yang belum terlalu dikenal di Indonesia, yang juga adalah tempat yang sangat kucintai. Kemiskinan dan ketertinggalan telah menjadi bagian dari kami, terutama dari sisi pendidikan. Namun, tidak berarti kami menyerah begitu saja. Selalu ada orang-orang sederhana yang rela berjuang dan mempertaruhkan segalanya untuk memajukan Nduga, salah satunya adalah Ayahku.

Ayahku, Simias Kogoya, lahir tepat di malam tahun baru pada tahun 1968. Orangtuanya hanya sepasang petani sederhana di Mugi, salah satu distrik Nduga. Namun semangat belajar ayahku sangatlah tinggi. Ayah rela berjalan kaki hampir 3 jam untuk berangkat ke sekolah. Ayah bercita-cita menjadi guru agar bisa mengajar banyak orang.

Setelah tamat SMA, Ayah dan Ibu menikah. Ibuku hanya tamat SD saat itu. Namun pernikahan dan kehidupan rumah tangga tidak menghalangi Ayah untuk memegang teguh cita-citanya. Ayah melanjutkan studinya ke SPG dengan penghasilannya dari berkebun. Tidak hanya itu. Ayah bahkan menyekolahkan paman dan ibuku juga. Untuk itu, dia harus bekerja lebih keras. Kelak, pamanku yang dibiayai Ayah menjadi sukses dalam hidupnya dan terpilih sebagai anggota DPR di Nduga.

Guru yang Inspiratif

Perjalanan Ayah dalam merintis impiannya tidaklah mudah. Selepas dari SPG, Ayah menjadi guru honorer di Distrik Mapenduma, Nduga. Ayah sangat mencintai pekerjaannya. Dia tidak pernah terlambat dan selalu ceria dalam mengajar. Tapi banyak sekali tantangan dari masyarakat dan murid-muridnya yang belum memahami arti pendidikan. Awalnya, banyak orang tua yang tidak mendengarkan kata-kata Ayah. Murid-muridnya sangat banyak dan bandel karena mereka tidak berminat untuk sekolah, tapi Ayah tidak pernah menyerah.

Salah satu murid Ayah yang nakal dan kehilangan motivasi belajar adalah Fajar (Bukan nama sebenarnya). Sebenarnya Fajar adalah putra seorang guru, tetapi sejaknya ayahnya meninggal, Fajar menjadi anak yang bandel dan bermalas-malasan. Tapi ayahku sangat mempedulikannya. “Fajar, kamu putra seorang guru. Bersungguh-sungguhlah belajar. Buktikan bahwa putra seorang guru juga bisa berhasil mencapai cita-cita,” tak bosan-bosan ayahku menasehatinya. Kini Fajar telah lulus Program Magister di Universitas Cendrawasih, Papua.

Seiring waktu berlalu, Ayah telah menuai hasil kerja kerasnya. Ayah telah membuktikan dedikasinya yang menginspirasi dan mengubah kehidupan banyak orang. Murid-muridnya telah menjadi orang-orang sukses. Ada 20 orang yang menjadi dokter, 5 orang yang menjadi pilot dan masih banyak lagi. Karena pengabdiannya, sekarang Nduga sudah mulai bangkit dari keterpurukan. Ayahku pun ditunjuk menjadi seorang Kepala Distrik oleh Pemerintah Daerah Nduga. Awalnya, sangat berat bagi Ayah untuk menerimanya karena dia mencintai pekerjaaannya sebagai seorang guru. Namun, akhirnya keputusan itu juga mendatangkan kemajuan yang lebih baik. Kini Pemerintah Daerah Nduga telah mengirimkan para pelajar untuk menuntut ilmu di Jakarta dan Australia supaya kelak mereka dapat menjadi generasi yang berguna untuk membangun Nduga.

Antara Cinta dan Tongkat Didikan

Lalu, bagaimana sosok Ayah di mataku sendiri sebagai putrinya?

Ayah bukanlah sosok pria hangat yang memanjakan anak-anaknya. Seperti lelaki Papua pada umumnya, ayahku sangat tegas, disiplin dan mendidik anak-anaknya seringkali dengan kekerasan. Ketika aku masih kecil, “tongkat didikan” Ayah yang menyakitkan akan langsung “berbicara” bila aku bermalas-malasan belajar. Hukuman-hukumannya tentu saja cukup menakutkan untuk membuatku kapok melakukan pelanggaran lagi. Kami semua, aku dan saudara-saudaraku menaruh hormat dan takut padanya. Namun dibalik “tangan besi” nya, aku selalu menyadari kalau Ayahku bermaksud baik dan ingin melihatku sukses di masa depan. Cara Ayahku menunjukkan cinta pada anak-anaknya adalah dengan mengajarkan pada kami betapa kerasnya kehidupan ini.

Dan pelajaran menyakitkan ini berbuah manis.

Bila hari ini, aku bisa menorehkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa dengan meraih berbagai medali dalam kompetisi matematika tingkat internasional, semua ini tidak lepas dari peran “tongkat didikan” ayahku.

Walaupun aku anak perempuan, aku telah belajar dari Ayah untuk menjadi tangguh dan tidak cengeng sejak kecil. Aku meninggalkan rumah  pada usia 9 tahun untuk mengejar cita-cita dan melanjutkan pendidikan ke Pulau Jawa. Di saat anak-anak lain bermain dan menikmati masa kecil mereka, aku telah merintis masa depanku. Bagaimana mungkin aku sanggup bertahan hidup sendirian jauh dari rumah, menghadapi berbagai masalah dan mengatasi rasa rindu pada keluarga, bila aku tidak pernah memiliki Ayah yang telah mengajarkan padaku bahwa ada harga yang harus dibayar untuk sebuah mimpi?

Dahulu mungkin pernah terbersit dibenakku sebuah keinginan untuk memiliki seorang Ayah yang hangat. Tapi sekarang, kupikir aku tidak menyesalinya. Seandainya waktu dapat diputar kembali, bahkan seandainya aku diizinkan oleh Tuhan untuk memilih, aku tetap ingin menjadi putri Pak Simias Kogoya. Ayah adalah guru kehidupanku yang telah mengajarkanku untuk menjadi tangguh dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. Ayah telah mengajariku bahwa pendidikan itu jauh lebih berharga dari uang. Ayahku menginspirasiku untuk membangun kampung halamanku suatu hari nanti.

Melalui tulisan ini aku hanya ingin mengatakan bahwa aku bangga menjadi putri Pak Simias Kogoya. Aku bangga telah melihat teladannya secara langsung.

NB: Kisah ini ditulis ketika Nita masih berusia 13 tahun dan duduk di kelas 8. Saya muat atas seizin Nita sebagai bentuk apresiasi saya terhadap ketekunannya dalam belajar menulis di kelas saya. Nita murid yang cerdas dan berprestasi, pernah memenangkan medali emas pada saat olimpiade matematika di Beijing dan diwawancarai oleh Najwa Shihab. Tapi bukan itu yang membuat saya terkesan. Saya mengajar selama 15 tahun, sudah bertemu dengan berbagai murid jenius dari berbagai latar belakang. Yang saya apresiasi adalah dia rendah hati dan selalu menolong teman-temannya, adik-adik kelasnya. Bahkan seringkali dia mengorbankan kepentingannya sendiri demi mengajar mereka. Dan dia sangat…sangat tekun… Tidak mudah bagi seorang murid Papua yang terbiasa bicara bahasa daerah di kampung halamannya untuk belajar menulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nita melewati tantangan itu tanpa mengeluh: puluhan kali revisi dari saya dan jam-jam belajar yang tinggi telah mengasah kemampuan menulisnya. Kini Nita menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Trisakti. Prestasi Alvionita dapat dilihat di sini

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s