7 Hal Yang Harus Diantisipasi Saat Mengajar SD Secara Online

Pandemi Corona memaksa kita semua untuk tinggal di rumah. Hal ini mendatangkan tantangan sendiri bagi institusi pendidikan untuk memberikan materi yang berkualitas dan menyenangkan pada siswa. Tantangan ini semakin terasa saat siswa yang diajar masih anak-anak. Otomatis kita tidak hanya berurusan dengan anak, tetapi juga orang tuanya. Ada orang tua yang paham teknologi, ada yang tidak. Ada yang memang tinggal di rumah untuk mendampingi anak belajar, ada yang masih tetap harus bekerja. Latar belakang pendidikan pun bermacam-macam. Perbedaan ini mendatangkan berbagai dinamika dalam pembelajaran online khusus anak-anak SD. 

Akibatnya, banyak sekali keluhan mengenai pelaksanaan pembelajaran jarak jauh ini. Ada orang tua yang mengeluh karena banyaknya tugas yang harus dikerjakan anak sementara orang tua tidak punya banyak waktu mendampingi. Ada yang mengeluhkan keribetan teknologi Google Classroom, Moodle, Apps pembelajarnya lainnya, bahkan email! Ya, saya pernah harus meng-coach Moms yang sama sekali belum paham email. 

Sementara, menjadi guru yang mengajar jarak jauh juga tidak mudah. Waktu yang dihabiskan untuk mempersiapkan pelajaran menjadi jauh lebih panjang, berikut kompleksitas teknologinya. Tiba-tiba guru harus lembur untuk mempersiapkan materi di Google Classroom atau bahkan membuat video – perancangan konsep, syuting, editing, dll-, belum lagi harus mengisi raport, melayani komplain orang tua, mengelola whatsapp grup, dll. Ditambah juga kuota yang ludes tak terasa. 

Mengajar online pada anak-anak SD, terutama kelas kecil (1-3 SD) tidak semudah kelihatannya. Jadi, apa saja hal-hal yang harus diantisipasi oleh seorang guru?

1. Kegagapan Teknologi

Bagaimana caranya menggunakan Google Classroom? Bagaimana men-share file yang ada di whatsapp ke email? Kalau ukuran video terlalu besar untuk email, apa yang harus dilakukan? Baik guru maupun orang tua akan menghadapi hal-hal ini ketika terlibat dalam pembelajaran jarak jauh. Bisa jadi guru yang tidak familiar dengan teknologi. Bisa juga gurunya familiar, tapi orang tua murid tidak. Atau malah dua-duanya tidak paham teknologi. Wah..repot kalau begitu. Demi kelancaran pembelajaran online, mau tidak mau, guru harus menguasai teknologi yang digunakan. Bahkan lebih dari itu. Kadang-kadang guru harus bisa menjelaskan juga pada orang tua murid. Saya pernah menghadapi berbagai orang tua murid yang tidak paham email, tidak tahu bagaimana merekam suara dengan HP, bahkan tidak bisa mengecek apakah HPnya terhubung dengan internet atau tidak. So, teacher, meningkatkan skill adalah hal tak terelakkan. Tapi jangan khawatir. Kita bisa belajar lewat banyak hal. Youtube menyediakan tutorial apa saja kok 🙂

2. Anak yang tidak termotivasi belajar.

Sering kali orang tua mengeluh, anaknya yang dirumah tidak mau belajar. Mereka bermain games atau menonton TV sehingga orang tuanya pusing. Atau mereka menunda-nunda dalam mengerjakan tugas yang dikirimkan gurunya. Nah, Teacher, bagaimana sikap kita menanggapi keluhan ini? Bagi saya, jarak tidaklah menghalangi saya untuk menegur atau memotivasi murid-murid saya. Saya bisa memahami anak-anak akan lebih bersemangat bila belajar dengan teman-teman di sekolah. Karena itu, mengatur video group call sesekali bisa menjadi solusi. Kadang saya juga video call dengan murid saya untuk memotivasinya belajar. Kita perlu untuk tetap menyelipkan sisi humanis dari pembelajaran online ini. 

4. Tugas yang terlalu sulit menurut orang tua.

Definisikan sulit. Ketika kita memberikan tugas pada anak, ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan: materinya sudah diajarkan dan dipahami anak, durasi waktu pengerjaan dan deadline yang rasional, anak mampu mengerjakan tugasnya sendiri, dan tugas ini akan menolong tercapainya tujuan pembelajaran. Pemberian tugas jangan disamakan dengan pada saat pembelajaran tatap muka. Jangan sampai kita hanya “kejar tayang” menghabiskan materi di buku saja. Lagi pula tidak perlu semua latihan di buku dikerjakan. Kita dapat memilih yang mewakili saja, asalkan tujuan pembelajaran tercapai. Kadang-kadang tugas dapat diberikan dalam bentuk praktek, misalnya membuat prakarya, melakukan percobaan, merekam video atau audio. Bila orang tua masih kesulitan, maka alternatif coaching langsung dapat dilakukan via telp atau video call. 

5. Orang tua murid yang terlalu sibuk.

Tidak semua orang tua murid bekerja dari rumah. Bagi yang bekerja di perbankan, bidang medis, retail kebutuhan sehari-hari, restoran dan sebagainya, mereka tetap bekerja di luar sehingga tidak bisa mendampingi anak-anaknya belajar. Solusi yang dapat diberikan oleh pihak sekolah adalah melonggarkan deadline. Banyak juga anak-anak yang didampingi oleh asisten rumah tangga, sehingga guru juga perlu mempersiapkan skenario ini. 

6. Orang tua murid yang mengambil alih.

Salah satu resiko belajar di rumah adalah, kadang-kadang tugas tidak dikerjakan oleh anak, tetapi orang tuanya. Akibatnya, anak tidak belajar apa-apa. Tentu saja bagi guru yang sudah sangat mengenal murid-muridnya, akan langsung tahu bila pekerjaan tidak dilakukan anak. Mengapa kadang kala orang tua mengambil alih tugas anak-anak mereka? Mungkin mereka khawatir anaknya mendapatkan nilai yang buruk. Mungkin juga ada yang perfeksionis, ingin anaknya mendapatkan nilai sempurna. Guru perlu memberi pengertian pada orang tua, bahwa esensi belajar adalah prosesnya. Bila prosesnya berhasil, maka hasil akan otomatis mengikuti. Ini dapat dilakukan dengan cara guru meminta orang tua memotret atau merekam proses pembuatan produknya.  Komunikasi aktif harus sering dilakukan.

7. Sistem Manajemen File.

Setelah Pembelajaran Jarak Jauh  berjalan hampir sebulan, saya dibanjiri hampir 500 e-mail, Google Drive saya hampir penuh dan itu belum terhitung lebih dari 1000 foto ratusan video, tugas anak-anak yang ada di handphone. Terdengar berlebihan? Itulah yang terjadi. Selamat datang di dunia online learning ha..ha.. 🙂 Karena itu, ada satu hal yang mutlak diperhatikan oleh guru, yaitu sistem manajemen file. Buat folder yang teratur di manapun. Di laptop, handphone, media penyimpanan online, USB, E-mail, dan di manapun, manajemen file harus rapi. Manajemen file sangatlah penting supaya kita tidak sampai tertukar mengirim soal dan sebagainya. Dengan manajemen file yang benar, kita tahu mana file yang perlu dihapus, mana yang masih perlu dipertahankan. Jangan mengelola file pada saat sudah banyak, kelolalah sedini mungkin. Urutkan berdasarkan tanggal, kelas, mata pelajaran yang diajarkan atau apapun yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Oke teachers, bicara mengenai online learning memang tidak ada habisnya. Apabila ada yang punya pengalaman menarik atau hal-hal yang perlu ditambahkan, khususnya tentang pembelajaran SD, share di kolom komentar ya.

Stay at home and happy teaching 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s