7 Tips Mendampingi Anak Belajar Selama Pandemi Corona

“Yth. Wali Murid, para peserta didik akan belajar di rumah sebagai bentuk siaga corona.”

“Bagus. Saya mendukung sekali karena saya juga khawatir anak saya tertular virus.”

Then…. minggu pertama belajar di rumah ….

“Kenapa soalnya banyak banget?”

“Materinya kok susah-susah? Ini pelajaran SD bukan sih???”

“Bobby, belajar. Jangan main game melulu.”

“Masa cuma tambah-tambahan begini saja kamu nggak bisa, Bobby? Kamu sudah disekolahin mahal-mahal. Mama sita hapemu sekarang!”

Mungkin tidak seheboh itu, Moms (“,) Tapi menjadi “guru dadakan” tentu skenario yang tak terbayangkan ya. Mommies yang biasanya sibuk di kantor, menyerahkan segala urusan domestik pada asisten rumah tangga atau membayar guru les untuk urusan PR dan pelajaran, kini harus mendampingi sang buah hati untuk belajar full-time di rumah. dengan kondisi ada segudang pekerjaan kantor juga yang harus dibawa pulang pula. 

Atau mungkin bagi sebagian Mommies yang tidak bergantung pada guru les, mendampingi anak belajar bukan hal baru. Setiap malam, Moms terbiasa memeriksa PR atau mempersiapkan anak untuk ulangan. Tetapi setelah wabah virus corona, ceritanya jadi berbeda. Pendampingan ini tidak hanya sekedar memeriksa PR saja, tetapi berurusan dengan gadget, mengirim lembar jawaban pada guru di sekolah, hingga harus turun tangan menerangkan bila anak tidak mengerti. Repotnya lagi bila anak tidak mau belajar karena suasana di rumah berbeda dengan suasana di sekolah yang serba disiplin. 

Tulisan ini saya bagikan pada Moms yang punya anak-anak yang belum bisa belajar secara mandiri. Terutama anak-anak kelas 3 SD ke bawah masih harus diawasi, didampingi, dan dibantu bila sistem pembelajarannya memerlukan akses teknologi.

Dari pengalaman saya sebagai teacher dan hasil sharing para parents yang sudah menjalani Home-Based Learning selama beberapa saat, semoga tips berikut ini bisa membantu:

1. Menentukan siapa yang mendampingi anak belajar di rumah.

Yang paling penting diputuskan untuk pertama kalinya adalah pembagian tugas. Siapa yang akan mendampingi anak untuk belajar? Bukan hanya tugas Mommies lho. Para Ayah juga perlu dilibatkan, terutama kalau punya anak lebih dari satu. Mungkin Mommies pandai matematika dan Ayah jago berbahasa Inggris, maka anak-anak akan mendapatkan manfaat yang lebih maksimal saat kedua orang tua terlibat.

Atau ada juga parents yang belum Work From Home, sehingga mau tak mau pendampingan dipercayakan pada Opa/Oma atau asisten rumah tangga. Kalau ini terjadi, jangan berkecil hati, Moms. Latihlah asisten rumah tangga Anda untuk bisa memastikan anak belajar di rumah, memotret jawaban anak yang perlu di submit dan beberapa teknologi dasar. Jika materi dikirim via email, Google classroom atau aplikasi apapun saat Mommies ada di kantor, screenshot dan segera kirimkan pada asisten rumah tangga yang ada di rumah.

2. Mempelajari teknologi yang dibutuhkan untuk pembelajaran jarak jauh.

Ketika sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh, mau tak mau Moms perlu mempelajari teknologi pendukungnya. Apakah sekolah menggunakan mailing list, Google Classroom atau aplikasi lainnya? Pelajari dan coba juga fasilitas belajar jarak jauh yang ditawarkan oleh banyak pengembang. Agar pembelajaran berjalan lancar, mau tak mau kita harus familiar dengan teknologi. Jangan ragu untuk bertanya dan minta bantuan bila tidak mengerti.

3. Menjelaskan makna belajar di rumah pada anak sejak dini.

Anak perlu memahami walaupun mereka tidak pergi ke sekolah, tidak berarti mereka bisa bermain-main saja seharian di rumah. Mereka tetap “bersekolah” hanya lokasi belajarnya dipindahkan ke rumah untuk sementara. Itu artinya pada “jam sekolah” mereka diharapkan untuk duduk di meja belajar dan mengerjakan tugas dari gurunya.  Jauhkan segala pengalih perhatian: TV, mainan dan gadget. Sediakan tempat yang tepat bagi anak untuk belajar: duduk di depan meja belajar, bukan tengkurap di tempat tidur bersama gadget dan mainan-mainannya. Ingatkan anak bahwa belajar adalah tanggung jawabnya, sama seperti Papa dan Mama punya tanggung jawab saat membawa pekerjaan dari kantor, anak juga punya tanggung jawab untuk belajar.

4. Membangun rutinitas dan displin setiap hari.

Kita sering mengira anak-anak menyukai kebebasan dan hidup tanpa aturan supaya mereka bisa bermain sepuasnya. Tapi kenyataan sebenarnya, Kids do love routine. Aturan dan rutinitas yang konsisten mendatangkan rasa aman dalam diri anak. Mereka jadi tahu what to expect, tidak harus meraba-raba situasi dengan bingung. Ketika sekolah tempat saya bekerja menerapkan aturan anak-anak sudah harus berbaris pada jam sekian, maka otomatis mereka akan mengikutinya. Bila pada jam tersebut ada temannya yang belum berbaris, anak-anak lain akan mengingatkan atau mengadu pada wali kelasnya. Karena itu, walaupun anak belajar di rumah, terapkan disiplin untuk tetap bangun pagi, mandi, sarapan, dan duduk manis di depan meja belajar jika waktu belajar sudah dimulai. Lakukan dengan jam yang sama setiap hari. Ketika anak terbiasa, dia akan melakukannya dengan rutin.

5. Manfaatkan resource video atau peraga saat menjelaskan materi pada anak. 

Tidak berbakat mengajar? Jangan khawatir. Ada banyak video menarik yang bisa diperoleh dari youtube atau situs-situs lainnya untuk menolong anak memahami materi. Moms juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan flashcards, puzzle atau permainan lainnya dengan topik yang berkaitan dengan pelajaran.

6. Berkomunikasi secara terbuka dengan wali kelas.

Berkomunikasi dengan wali kelas menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung kelancaran pembelajaran jarak jauh. Komunikasikan dari awal kendala yang dialami sehingga bisa dicarikan solusi. Apakah soal terlalu banyak? Apakah Anda kesulitan mendampingi karena tetap harus bekerja? Perhatikan aturan dari sekolah masing-masing, jam berapa harus stand by untuk belajar, jam berapa materi atau soal bisa diakses, jam berapa harus mengumpulkan jawaban. Perhatikan juga jam kerja guru dan usahakan untuk menghubungi pada jam kerja supaya respon yang diperoleh juga bisa lebih cepat.

7. Sabar….sabar… dan sabar.

Ada banyak masalah yang mungkin timbul dari pembelajaran jarak jauh. Mulai dari keribetan soal teknologi, koneksi internet, materi soal yang banyak, anak yang tidak mau belajar, anak yang tidak mengerti pelajaran, dan masih banyak lagi. Dibutuhkan cinta dan kesabaran untuk mendampingi anak-anak, Moms. Jangan “meledak” bila anak “nggak ngerti-ngerti juga.” Mungkin metode menjelaskannya yang harus diubah, Moms. Barangkali Youtube bisa membantu 😀

Masa-masa ini memang masa yang sulit bagi kita semua, tapi suatu hari, ketika anak-anak dewasa kelak, mereka akan mengingat kenangan-kenangan seru ketika semua anggota keluarga tidak bisa kemana-mana dan terpaksa beraktivitas di rumah. Di masa depan ketika pandemi Corona menjadi sejarah, kita telah menorehkan pelajaran hidup yang berharga bagi mereka 🙂

#yukbelajardirumah

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s