6 Manfaat PR Bagi Pengembangan Pribadi Anak

Ada berbagai pendapat pro dan kontra mengenai kebijakan memberikan PR pada murid-murid sekolah. Ada yang berargumen PR hanya akan membuat anak stres dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Ada pula yang berpendapat PR memiliki peran penting untuk menunjang proses pembelajaran.

Saya sendiri memercayai pemberian PR memang memiliki sisi positif maupun negatif. Namun saya masih melihat sisi positifnya akan jauh lebih besar dari pada sisi negatifnya apabila guru dapat memberikannya dengan bijak.

Bagaimanapun juga, manfaat PR akan terasa bila siswa mengerjakannya dengan antusias. Jangan sampai siswa mengerjakan PR hanya karena takut di hukum guru. Siswa harus disadarkan bahwa PR memang bermanfaat bagi dirinya, bukan hanya dari sisi akademik, tetapi PR juga berperan dalam pertumbuhan kepribadian dan kedewasaan anak.

Nah, apa saja sih yang dapat dipelajari seorang anak ketika dia membuat PR?

1.Anak belajar bertanggung jawab dengan tugasnya

Dengan adanya PR, anak belajar bahwa dia memiliki tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan. Mereka harus menyisihkan waktu untuk mengerjakannya walaupun yang ingin mereka lakukan sebenarnya adalah bermain games di handphone atau menonton Youtube. Mereka belajar menyelesaikan tugas yang diberikan pada mereka sama seperti seorang pegawai yang dituntut menyelesaikan pekerjaannya. Sikap bertanggungjawab ini sangatlah berharga saat mereka beranjak dewasa nanti.

2.Anak belajar tentang disiplin dan manajemen waktu.

Ketika seorang siswa harus menyisihkan waktu tertentu untuk mengerjakan PR, secara tak langsung dia belajar tentang pentingnya manajemen waktu. Jika ada beberapa PR pada saat yang bersamaan, dia akan belajar tentang skala prioritas. PR mana yang cukup mendesak dan harus dikerjakan lebih dulu? Apakah bijak bila dia mendahulukan posting-posting foto di media sosial saat ada banyak PR yang belum dikerjakan?

3. Anak belajar memecahkan masalah secara independen.

Ketika mengerjakan PR, anak-anak dituntut untuk menjawab soal-soal atau membuat suatu karya tanpa bantuan guru. Mereka belajar untuk memecahkan masalah secara independen. Mungkin saja setelah selesai, orang tua atau guru les memeriksa hasil pekerjaan mereka. Namun dengan adanya PR, mereka setidaknya dilatih untuk mencoba mengerjakannya sendiri terlebih dahulu. Suka atau tidak suka, PR “memaksa” anak untuk menyelesaikan masalah dan tidak melarikan diri. Mereka belajar bahwa walaupun mereka sedang tidak ingin, mereka tetap harus mengerjakannya.

Ini akan memudahkan mereka ketika dewasa kelak. Mahasiswa yang kuliah dan harus mengerjakan paper atau skripsi secara mandiri. Karyawan atau pengusaha muda sering harus membuat proposal bisnis atau laporan keuangan sendiri. Jika kemandirian telah dipupuk sejak kecil, maka setelah dewasa mereka akan terbiasa untuk tidak bergantung pada orang lain.

4. Anak belajar tentang kesabaran dan daya tahan

Mengerjakan PR tidak selalu menyenangkan. Kadang-kadang dibutuhkan waktu yang panjang untuk memahami suatu materi dan menyelesaikan soal atau tugas proyek yang diberikan. Mereka harus mencoba berulang-ulang. Guru terus-menerus memberikan PR hingga mereka dapat memahami suatu materi. Dengan demikian mereka belajar tidak ada hasil yang instan. Jika ingin cerdas, mereka harus rajin belajar, membaca buku dan sering mengerjakan soal latihan. Mereka belajar bahwa dibutuhkan jangka waktu tertentu untuk memecahkan masalah atau menguasai suatu skill. Semakin rumit skill-nya, semakin panjang pula waktu yang dibutuhkan untuk memecahkannya. Kelak jika mereka bekerja atau memulai usaha, mereka punya daya tahan dan kesabaran yang dibutuhkan untuk mencapai kesuksesan.

5. Anak dapat memperdalam materi yang sudah dipelajari.

Tentu saja pemberian PR dilakukan supaya Anak dapat belajar di rumah. Banyak anak yang kurang memerhatikan ketika gurunya menerangkan pelajaran, atau kalaupun memerhatikan belum tentu mereka langsung mengerti seratus persen. Dengan adanya PR, anak mengulang kembali pelajaran tersebut di rumah sehingga dapat memperdalam pemahamannya.

6. Anak belajar tentang kebanggaan dan rasa percaya diri.

Siswa yang tidak mengerjakan tidak hanya mendapat masalah dengan guru, tetapi sering kali haris menghadapi sanksi sosial dari teman-temannya. Siswa yang rajin tentu saja kesal bila temannya tinggal menyontek saja karena tidak mengerjakan PR. Siswa yang sering tidak mengerjakan PR akan dicap pemalas. Karena itu, ketika siswa mengerjakan PR dengan baik, ada kebanggaan tersendiri yang dia rasakan.

Saya termasuk guru yang hampir tidak pernah memberikan sanksi bila murid-murid saya tidak menyelesaikan PR nya. Saya hanya menunjukkan ada konsekuensi alami dari kelalaian tersebut. Ketika mengajar SMA, biasanya saya akan duduk bersama mereka, menjelaskan target-target pembelajaran, PR dan tugas yang harus diselesaikan supaya mereka menguasai materi tertentu. Nah, kalau ada yang tidak selesai PRnya, saya akan meminta mereka memyelesaikannya di sekolah. Sementara teman-teman yang sudah selesai akan diperbolehkan mengikuti permainan edukasi saya rutin saya berikan di sekolah atau mereka akan melewatkan screening time yang menjadi favorit mereka. Sementara teman-teman mereka nonton, mereka harus duduk di luar ngedeprok di lantai untuk mengerjakan PR. Itu kebijakan saya. Dan jarang sekali anak-anak tidak mengerjakan PR. 

Untuk anak-anak SD lebih mudah lagi. Saya hanya bertanya,”Siapa yang sudah selesai PRnya? ” “Saya ! Saya ! Saya !” yang sudah selesai akan berseru bangga.
Nah yang belum selesai? Mereka malu sendiri padahal tidak pernah saya mempermalukan mereka (Tapi saya akan menelpon orang tua mereka untuk mendiskusikan kelalaian PR ini).

Kesanggupan menyelesaikan tugas ini akan membuat siswa bangga pada diri mereka sendiri. Mereka merasa, “Saya bisa. Saya mampu. Saya sanggup menjadi anak yang rajin.” Ciptakan atmosfir seperti itu. Kebanggaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri, sebuah bekal berharga untuk mengejar kesuksesan di masa depan.

Nah, dengan adanya begitu banyak manfaat PR, rasanya sayang jika kita menghilangkan PR sama sekali dari pembelajaran. Walaupun ada dampak negatif dari terlalu banyak PR, dampak negatif tersebut dapat diantisipasi dan diminimalisir bila kita tahu caranya. Saya akan membahas ini di postingan berikutnya. Stay tune ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s