4 Cara Mengajar Siswa Untuk Mencintai Menulis

Hi Teachers, pada postingan sebelumnya, saya sudah mengupas tentang beberapa tips untuk mengajarkan Bahasa Indonesia dengan cara yang menarik. Yang belum sempat explore tips-tipsnya, yuk lihat di sini.

Kali ini saya akan lebih fokus pada kemampuan menulis. Menulis merupakan keterampilan krusial yang harus dikuasai setiap siswa, apapun jurusan dan cita-cita mereka. Mengapa? Karena menulis adalah kemampuan dasar yang dibutuhkan hampir di setiap bidang. Setiap mahasiswa perlu menguasai cara menulis makalah penelitian atau skripsi yang baik. Pengusaha muda perlu menguasai cara pembuatan proposal bisnis untuk dipresentasikan di hadapan investor. Ada banyak sekali manfaat menulis. Akan tetapi, bila menulis tidak diajarkan dengan baik, materi ini akan berat dan membosankan. Karena itu, proyek menulis harus dapat dikembangkan dengan kreatif sehingga tugas menulis tidak akan menjadi monoton.
Berikut ini adalah hal-hal yang dapat dilakukan untuk membuat tugas menulis menjadi lebih efektif dan menarik:

1. Menulis surat pada tokoh di masa lampau.

Salah satu topik menarik dalam belajar Bahasa Indonesia adalah belajar teks biografi. Namun apabila pelajaran ini diberikan dengan cara yang monoton, misalnya murid hanya diminta membaca dan mengisi soal, maka makna dari pelajaran ini akan kurang diresapi oleh murid. Biografi dapat diberikan dalam bentuk film. Selain mendiskusikan keistimewaan dan teladan tokoh yang hidup di masa lampau, murid juga dapat diminta menulis surat pada tokoh tersebut dengan mengaitkannya pada permasalahan yang relevan di masa kini. Saya ingat saat memperingati Martin Luther Day dulu, dosen saya meminta kami untuk membalas surat Martin Luther King Jr yang terkenal, A letter for Birmingham, dengan menceritakan rasisme dan diskriminasi yang terjadi di negara masing-masing.

2. Membuat vlog

Jika dulu anak-anak remaja bercita-cita ingin menjadi dokter, pengacara atau artis, kini Anda akan menemukan anak-anak remaja yang ingin menjadi celegram atau youtuber. Mereka memasang foto-foto liburan yang keren atau mengupload video musik yang mereka buat sendiri. Tidak jarang mereka terlibat dalam hal-hal yang buruk akibat media sosial seperti cyberbullying. Sekolah harus melakukan perannya dalam hal ini. Ketika saya memberikan tugas pada murid saya untuk membuat video liputan wawancara, selain mengajarkan tentang berita jurnalistik, saya juga punya kesempatan untuk bicara tentang kode etik dalam menggunakan media sosial, juga mengenai hak cipta. Hal-hal apa yang harus diantisipasi supaya mereka tidak melakukan pelanggaran dalam kedua hal ini. Bagaimana mereka harus berhati-hati dalam menggunakan media sosial dan sebagainya.

3. Kesempatan revisi pada tugas menulis.

Jangan pernah memberikan tugas mengarang begitu saja. Siswa tidak dibantu untuk membuat kerangka karangan, mengolah cerita, menyunting dan melakukan revisi. Padahal penulis terkenal Ernest Hermingway pernah berkata, “Semua tulisan pertama adalah sampah.” Artinya, semua tulisan seharusnya direvisi berkali-kali agar mendapatkan hasil yang sempurna. Namun yang sering terjadi di sekolah adalah guru memberikan PR mengarang, murid mengerjakan asal-asalan (beberapa murid cerdas mungkin akan berusaha menulis dengan sangat baik) lalu karangannya yang notabene adalah tulisan pertama langsung dinilai.

Padahal di dunia nyata, penulis profesional harus merevisi berulang-ulang ketika berurusan dengan editor. Ketika saya memberikan proyek menulis pada murid-murid saya, saya memotivasi mereka untuk menghasilkan tulisan yang layak dibanggakan karena saya akan mempublikasikannya. Karena itu, prosesnya akan bertahap, mulai dari ide cerita, pengembangan dan revisi-revisi. Setiap tahap akan diberi nilai tugas. Saya juga akan menyarankan buku-buku yang harus dibaca atau film yang harus ditonton untuk menambah wawasan. Bagi saya, lebih baik mereka mengerjakan karangan yang sama berulang-ulang hingga hasilnya membanggakan dari pada mereka mengerjakan banyak karya tulis dengan hasil pas-pasan.

4. Kesempatan publikasi.

Eksistensi adalah hal yang penting bagi remaja. Mereka aktif di media sosial memasang foto-foto atau video tentang kehidupan mereka sehari-hari atau hal-hal yang membuat mereka tertarik. Mengapa hal ini tidak dimanfaatkan? Rasanya sayang sekali jika sebuah tulisan hanya dikumpulkan untuk mendapatkan nilai. Jika saya menemukan tulisan bagus yang dibuat murid saya, saya akan membimbingnya untuk menyunting tulisan tersebut hingga benar-benar bagus, lalu mencari cara mempublikasikannya. Entah dengan mengumpulkannya dan menjadikannya buku, atau memasangnya di website sekolah. Ketika dijanjikan dengan publikasi, siswa akan berusaha menulis dengan lebih baik. Mereka memiliki tujuan yang lain, tidak hanya sekedar mengejar nilai, tetapi juga menghasilkan karya yang membanggakan.

Bagi rekan-rekan guru di Jakarta, Taman Galileo menawarkan workshop khusus “Creative Writing at the Classroom.” Kami dapat mengajarkan siswa dan guru untuk menerbitkan tulisan mereka dalam bentuk buku. Workshop ini gratis untuk wilayah Jakarta, Depok, Bogor dan sekitarnya. Silakan daftar melalui tautan berikut ini apabila sekolah Anda tertarik. Mohon bersabar menunggu kami menghubungi Anda.

Happy teaching 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s