5 Pengorbanan Guru Yang Sering Tak Disadari Siapapun

Jam kerja seorang guru sekolah tidak akan pernah dapat diukur. Secara umum, guru memang memiliki banyak pekerjaan, seperti sibuk mengajar di kelas, mengoreksi PR dan hasil ulangan, mengerjakan pekerjaan administrasi yang menumpuk, mengurusi event sekolah, berkomunikasi dengan orang tua murid, mengurusi lomba dan sebagainya. Apalagi bila guru yang bersangkutan adalah seorang wali kelas. Tanggungjawabnya lebih banyak lagi karena guru dituntut untuk menjadi “orang tua kedua” di sekolah.

Jika Anda sudah mengajar selama bertahun-tahun, maka Anda dapat menyimpulkan satu hal: Menjadi guru -berapapun gaji yang diterima- tetap memerlukan pengorbanan.

Nah, apa saja hal yang dilakukan seorang guru, yang sering tidak disadari oleh orang lain?

1. Menggunakan uang pribadi mereka untuk kepentingan murid.

Tentu kita setuju bahwa setiap sekolah memiliki anggaran untuk kelas seperti membeli peralatan kelas, alat-alat keterampilan, kertas karton, buku-buku dan sebagainya. Namun anggaran yang tak seberapa itu sering kali tak cukup kalau guru ingin membuat pembelajaran yang kreatif di kelas. Sering kali guru harus membeli alat dan bahan itu dengan uang pribadi karena yang disediakan sekolah tidak cukup. Belum ditambah ongkos transportasi dan waktu yang dihabiskan untuk mencarinya. Dan kalau murid-murid saya yang masih kecil tidak makan karena lupa membawa bekal makanan, tidak mungkin saya tidak mengajaknya jajan. Kemudian kado untuk murid ketika mereka mengundang ke acara pesta ulang tahun, dan lain sebagainya.

2. Menjadi Fasilitator Konflik

Masalah sosial yang ada di dalam kelas bisa membuat stres. Dan anak-anak kecil maupun remaja seringkali baru belajar menavigasi kehidupan sosial mereka sehingga konflik pun tak terhindari. Bayangkan ada 30 anak, jika setiap anak memiliki minimal satu masalah, artinya ada 30 masalah yang harus diselesaikan dalam setiap hari. Anak-anak sering kali bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting. Remaja sering kali punya kehidupan sosial yang begitu kompleks setelah media sosial terlibat dan guru diharapkan untuk menyelesaikan semua masalah itu di tengah-tengah kesibukan mereka.

Dan oh… belum lagi kalau orang tua terlibat. Sering terjadi di SD, orang tua terlalu protektif dengan anaknya sehingga mereka pun membela anaknya ketika anaknya bertikai dengan anak lain. Dan setelah anak-anak yang bertikai ini berdamai dan kembali bermain bersama, orang tua kedua belah pihak masih pahit satu sama lain, bertanya-tanya mengapa orang tua pihak lawannya gagal mendidik anaknya. Saya sering harus mendudukkan dan mendamaikan orang tua yang ribut di wa group. Dan menyelesaikan ini jauh lebih sulit dari pada mendamaikan anak-anak mereka yang berkelahi.

Itu belum terhitung dengan anak atau orang tua yang bermasalah dengan guru lain. Kalau Anda ada di posisi kurikulum, kesiswaan atau kepala sekolah, tidak mungkin Anda tidak turun tangan.

3. Tetap bekerja pada jam istirahat.

Pada jam Istirahat, pekerja kantor akan keluar untuk makan siang. Atau, mereka akan makan bersama di kafetaria sambil membicarakan macam-macam topik. Namun bila Anda guru yang mengajar anak-anak, Anda TIDAK punya jam istirahat. Jam istirahat 10-15 menit yang berharga itu akan dihabiskan untuk makan sambil mengawasi murid-murid, menyiapkan pembelajaran selanjutnya atau mengoreksi PR. Itu belum termasuk bila Anda disela dengan kejadian tak terduga. Misalnya Bobby mendorong temannya, hingga jatuh dan menangis. Maka Anda akan meninggalkan makan siang Anda untuk mendamaikan mereka. Lalu murid Anda yang lain terjatuh saat memanjat meja. Waktu Anda pun habis untuk mengobati lukanya sambil menasihatinya. Dan sepulang sekolah, Anda masih harus menghabiskan waktu untuk menjelaskan kejadian itu pada orang tuanya.

Setelah bel berbunyi dan anak-anak pulang, Anda hanya menarik napas beberapa menit saja karena ada rapat yang harus dihadiri, event yang harus direncanakan dan sebagainya. Waktu istirahat adalah hal yang mewah bagi seorang guru.

4. Menjadi “perawat”

Pemerintah mewajibkan sekolah harus memiliki UKS. Namun hampir mustahil satu UKS melayani ratusan bahkan ribuan siswa. Sementara apa saja bisa terjadi di sekolah. Anak yang cedera kakinya saat bermain bola, anak yang didorong hingga terjatuh, anak yang tergelincir jatuh karena berlari-lari di tangga, anak yang demam tapi tetap memaksa masuk ke sekolah, anak yang muntah-muntah, sakit perut, berbagai keluhan medis lainnya. Guru setidaknya menguasai skill pertolongan pertama: dari membalut luka hingga menenangkan anak yang menangis.

Oh… lebih seru lagi kalau fieldtrip, camping dan sebagainya. Apa saja bisa terjadi dalam perjalanan atau ketika menginap di tempat tujuan. Siapa lagi yang akan membersihkan kursi bus kalau ada murid yang muntah akibat mabuk kendaraan ? Bagaimana kalau di tengah perjalanan murid TK atau SD kelas 1 yang Anda bawa tak bisa menahan diri untuk ke toilet ? Anda bisa membayangkannya.

5. Memikirkan siswanya sepanjang waktu.

Jika Anda mengira sepulang sekolah guru akan langsung “switch off” dan berhenti memikirkan siswanya, salah besar. Guru yang baik akan terus-menerus memikirkan murid-murid mereka yang “spesial” : murid nakal, murid yang terancam tidak naik kelas, murid yang mengalami masalah keluarga hingga terus-menerus murung di kelas, dll. Sering kali guru akan merencanakan hal-hal yang harus dilakukan esok hari untuk menangani murid tersebut. Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk berdiskusi mengenai murid tersebut dengan rekan-rekannya, kepala sekolah atau pasangannya di rumah.

Dari semua hal di atas, saya belum mendaftarkan perjuangan guru-guru di daerah pedalaman yang harus melintasi gunung untuk menjemput siswa atau naik perahu ke pulau-pulau terpencil sambil membawa buku-buku. Kita tak dapat memungkiri menjadi guru memerlukan pengorbanan. Sering kali jerih lelah guru tidak diapresiasi dengan cukup, namun mereka tetap semangat mengajar.

So, teachers, thank you for everything. You’re our heroes 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s