Workshop Fotografi di TK Santo Yoseph

TK Santo Yoseph di Jl. Dwiwarna, Jakarta Pusat mengadakan workshop fotografi yang diselenggarakan pada tanggal 15-16 Februari 2018 dengan tujuan memerlengkapi guru-guru dengan seni dan kemampuan teknis dalam menggunakan gadget untuk memdokumentasikan kegiatan di sekolah.

Workshop ini juga dihadiri dan didukung oleh Sang Kepala Sekolah, Ratih Suhandi yang sudah bersemangat untuk mengundang saya sebagai trainer sejak tahun lalu. Materi workshop yang meliputi komposisi, pencahayaan, angle kamera, hingga cara mengarahkan model yang masih anak-anak. Setelah itu, para guru juga diajarkan prinsip-prinsip dasar dalam merekam video, teknik menyunting, memilih App yang cocok di ponsel hingga aturan dan kode etik dalam memublikasikan gambar. Pada hari kedua training, saya memberikan kesempatan pada para peserta untuk praktik langsung. Kemudian foto dan video yang dihasilkan didiskusikan di dalam kelas sehingga semua peserta bisa belajar bersama-sama.

Fotografi merupakan seni yang paling dirayakan oleh generasi ini. Kalau dulu fotografi hanya identik dengan setting kamera yang rumit, alat-alat yang mahal dan profesi tertentu seperti fotografer dan jurnalis, kini ponsel pintar telah membuka peluang bagi orang awam untuk memotret foto yang keren hanya dengan sekali sentuh. Apalagi dengan kehadiran instagram, kepentingan untuk mendokumentasikan segala sesuatu dalam bentuk gambar pun tak terelakkan lagi, salah satunya adalah kegiatan di sekolah.

Ada banyak alasan untuk mendokumentasikan kegiatan sekolah. Selain sebagai sarana promosi di media sosial, foto-foto yang bagus akan menjadi media untuk mengapresiasi kerja keras dan karya yang dilakukan oleh siswa. Memotret murid-murid atau merekam video kegiatan mereka di sekolah menunjukkan bahwa kita sebagai guru cukup peduli dan menganggap penting sehingga merasa perlu mengabadikannya.

Hal yang paling menyenangkan saya sebagai trainer adalah antusiasme para guru dan usaha yang mereka lakukan untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka pelajari. Foto-foto kegiatan anak yang mereka dapatkan didiskusikan di dalam kelas. Selain melihat semangat mereka dalam membicarakan teknis foto, saya juga tersentuh melihat betapa besar rasa peduli dan rasa sayang dari beberapa guru terhadap murid-murid mereka.

Memotret anak-anak itu nggak mudah lho. Kalau Anda berada di dalam kelas dengan 20 an balita yang aktif bergerak kesana-kemari, butuh kemampuan ekstra untuk mengabadikan seorang siswa yang sedang memberikan presentasi dan menenangkan kelas pada saat yang bersamaan. Kalau begitu, mengapa tidak meminta orang lain saja yang melakukannya?

Karena hanya gurulah yang dapat melihat momen-momen menarik yang bisa tiba-tiba muncul dalam kegiatan sehari-hari di kelas. Dalam event besar yang dilakukan sekolah, tentu ada seksi dokumentasi yang ditunjuk khusus, tetapi dalam kegiatan sehari-hari di kelas, hal ini akan sepenuhnya bergantung pada guru.

Guru juga perlu memiliki kebijaksanaan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk memotret, karena kewajiban utama guru adalah mengajar dan mendidik siswa. Dengan adanya kegiatan training ini, hal-hal seperti ini dapat didiskusikan dan disepakati bersama-sama.

Harapan kami kedepannya, kemampuan dasar fotografi ini dapat meningkatkan komunikasi dan kerjasama dengan orang tua murid. Dengan adanya foto-foto kegiatan di sekolah, orang tua murid bisa mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak dari sisi akademik di sekolah. Jika para moms tahu anak-anaknya bersenang-senang dalam belajar hal yang baru di sekolah, hati mereka pun menjadi tenang dalam memercayakan anak-anak mereka pada wali kelasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s