6 Tips Memotret Anak-anak Dengan Ponsel

Moms yang hobi banget dengan Instagram atau teachers yang bertugas mendokumentasikan event seru di sekolah tentu tahu betapa sulitnya memotret anak-anak kecil. Mengapa? Karena mereka begitu aktif – entah berlari-larian, duduk dengan gelisah, menangis, tidak mau tersenyum atau mengerjakan proyek sains dengan berantakan. Pengalaman saya sih, di tahun-tahun belakangan ini anak-anak semakin sadar kamera he..he.. Mungkin karena sudah mulai terbiasa. Nah, kadang-kadang ada juga anak yang senang di foto, sudah bergaya dengan keren, tapi karena yang memotret masih amatir, hasilnya pun jauh dari yang diharapkan. Misalnya anak sudah bergaya dengan oke banget, tapi difoto dekat tempat sampah yang isinya lagi diaduk-aduk oleh kucing. Aduh… atau aktivitas belajar membuat prakarya di kelas sebenarnya keren, tapi karena baju seragam anak lupa dimasukkan atau rambut anak yang menutupi mata, hasilnya jadi amburadul.

Nah ini tips memotret anak-anak dengan hasil keren ala fotografer, jadi foto-foto hasilnya nggak malu-maluin kalau dipajang di Instagram.

  1. Pastikan anak-anak berada di tempat yang cahayanya cukup.

img_20171129_182258_604Ini mungkin terdengar sudah sangaaaat..umum. Tapi masih sering nih saya jumpai foto-foto kegiatan sekolah di Instagram yang wajah anaknya nggak kelihatan. (backlight) Mengapa? Ya karena mereka disuruh berdiri membelakangi jendela. Karena itu, Anda harus pandai mengatur posisi. Tempatkan anak dalam posisi tegak lurus dengan sisi jendela, bukan membelakanginya. Lalu saat mengambil foto jangan berdiri langsung menghadap jendela, tapi geserlah agar Anda mendapatkan angle yang tepat.

  1. Menguasai trik foto candid

img_20180427_061112_414Pernah lihat foto-foto di koran atau majalah? Ya kita sering melihat atau mendengar tentang candid shot, yaitu memotret seseorang yang sedang melakukan kegiatan tertentu tanpa  melihat ke kamera. Misalnya memotret anak lagi asyik mewarnai boneka. Tapi mengambil foto candid itu jauh lebih sulit lho. Kadang-kadang anglenya kurang pas. Kadang-kadang anak bergerak begitu cepat sehingga kita terlambat menangkap momen yang tepat. Banyak yang bilang, “Ya sudah, kalau begitu foto saja sebanyak mungkin. Nanti yang nggak oke dihapus saja.” Tapi bagaimana kalau dari puluhan foto yang diperoleh, tidak ada yang oke hasilnya?

Ketika belajar Digital Photography di Amerika Serikat, Dosen saya pernah mengajarkan bahwa seorang fotografer harus “mindful” ketika mengambil foto. Tidak bisa kita hanya asal jepret saja berharap nanti beruntung mendapatkan foto yang bagus. Sebuah foto adalah refleksi dari hasil observasi sang fotografer yang ditunjukkan pada dunia. Dua orang fotografer memotret objek yang sama bisa menghasilkan foto yang sangat berbeda. Karena itu saya menyarankan kalau Anda ingin mahir mengambil foto candid anak-anak, Anda harus memang senang mengamati aktivitas anak.

Berhentilah sejenak dan lihatlah cara anak-anak bermain, belajar, berceloteh atau membuat karya seni. Dengan banyak mengamati, Anda akan mengenal sisi mana dari kepribadian anak yang menarik untuk diabadikan. Sebagai contoh, ketika saya membawa globe ke dalam kelas, murid-murid saya yang baru duduk di kelas 1 SD langsung heboh. Mereka belum tahu dimana letak negara-negara dan mengapa bumi itu bulat seperti bola. Tapi saya mengamati cara mereka memutar bola dunia itu dengan penasaran, setelah itu baru saya memosisikan kamera dan menangkap momen itu. 

  1. Posisikan kamera segaris dengan mata anak-anak yang akan dipotret.

img20180910100935Sering kali orang dewasa lupa kalau anak-anak bertubuh kecil dan pendek sehingga mereka sering memotret anak dari atas, akibatnya yang terfoto adalah kepala anak. Mata dan ekspresi anak yang menggemaskan pun luput dari kamera. Karena itu, Moms and teachers, rendahkan posisi ponsel Anda, apalagi bila Anda memotret anak-anak yang masih kecil. Ketika memotret anak TK yang asyik bermain, sering kali saya harus duduk, berlutut atau bahkan tengkurap untuk mendapatkan angle yang tepat. Hal yang sangat penting adalah memastikan kalau kamera ponsel Anda berada segaris lurus dengan mata anak yang akan dipotret (eye level)

  1. Fokus pada senyuman atau ekspresi anak

img_20171212_171637_936Senyuman dan ekspresi membuat foto Anda terlihat hidup. Seringkali orang dewasa memaksa anak tersenyum agar fotonya bagus. Padahal senyum paksa akan membuat anak terlihat kaku. Bagaimana supaya anak mau tersenyum atau bahkan bergaya di depan kamera? Caranya mudah : pujilah mereka. Berikan apresiasi. Jangan malah marah-marah karena anak tidak tersenyum. Misalnya ketika Anda ingin memotret anak yang baru selesai membuat origami bunga tulip. Sambil memosisikan kamera ponsel, Anda dapat berkata, “Zahra bikin apa? Bunga tulip ya? Wah..bagus yah bunganya, coba Ibu guru lihat.” Anak otomatis akan memperlihatkannya sambil tersenyum bila dipuji seperti itu. Dan Anda bisa mengabadikan ekspresi cerianya dalam foto.

  1. Prinsip minimalis dan sederhana

img_20190106_120050Ketika memotret anak, fokuslah padanya. Jika Anda melihat ada benda-benda disekitar yang mengalihkan fokus, singkirkanlah itu. Entah itu meja yang berantakan, jaket yang menggantung di kursi atau bahkan tong sampah yang tumpah. Kalau anak mengenakan baju yang cerah dan bercorak atau bermain dengan mainan yang berwarna-warni, usahakan agar latar belakangnya sederhana misalnya putih polos atau warna pastel yang lembut. Jangan sampai terlalu banyak hal yang ada dalam foto Anda sehingga audiens Anda tak tahu harus melihat kemana.

  1. Gunakan App untuk menyunting foto

img_20180527_121108_178Ketika saya bilang App, saya tidak bicara tentang tools yang bisa mennambahkan telinga kelinci, hidung tupai atau stiker kacamata pada wajah anak di dalam foto. Boleh-boleh saja kalau sesekali Anda ingin memasang foto-foto lucu dengan tools seperti itu. Maksud saya dengan menyertakan App adalah Anda perlu memiliki dua App standar yang diperlukan untuk membuat foto terlihat lebih oke: App untuk mengatur pencahayaan (Brightness dan contrast) dan App untuk mengaburkan latar belakang (blur background) sehingga anak dalam foto Anda akan terlihat lebih “stand out.” Favorit saya adalah Pixlr dan Blur Image. Kalau memori ponsel Anda cukup besar, Anda bisa lebih banyak mencoba bermacam-macam App yang lain.

Well, it is said that a picture paints a thousand words. Yuk, bereksplorasi dengan kamera ponsel Anda. Satu hal yang tak boleh dilupakan. Buat teman-teman teachers yang memotret aktivitas seru murid-murid Anda dan bermaksud menampilkannya di media sosial, jangan lupa ya minta izin pada orang tuanya dulu. Ketika saya bekerja di Children Museum di Amerika dulu, izin untuk menampilkan foto anak harus dilakukan dengan tanda tangan orang tua di atas materai. Di Indonesia mungkin tidak seketat itu. Dan pengalaman saya, para orang tua murid senang sekali bila foto anaknya dipajang sang wali kelas di media sosial. Tapi tetap saja, buat teachers, jangan lupa ya izin dulu dengan orang tuanya.

Selamat mencoba 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s