7 Cara Negosiasi Gaji Untuk Guru

Negosiasi gaji bukan hanya untuk “orang kantoran” saja. Sebagai guru, kita bisa juga lho menegosiasikan besarnya gaji, asalkan tahu cara dan waktu yang tepat untuk melakukannya. Hanya karena memiliki “profesi mulia” tidak berarti guru tidak boleh memikirkan kebutuhan finansial. Entah Anda guru sekolah, guru kursus, guru les privat, full-time maupun part-time – saya pernah melewati semuanya ­– Anda dapat menegosiasikan gaji. Banyak guru yang segan melakukannya karena profesi dibidang ini identik dengan “pengabdian” sehingga ada guru-guru yang merasa bersalah bila berbicara soal uang. Padahal seperti pekerja di bidang profesi lainnya, guru juga punya tanggung jawab finansial di keluarga yang harus dipenuhi: makan, transport, biaya sekolah anak, biaya berobat orang tua, pakaian resmi untuk kerja, tas, sepatu, buku-buku untuk mengembangkan diri, tagihan telpon, internet dan sebagainya.

Dua belas tahun yang lalu, saya dipanggil dan diwawancarai di sekolah internasional. Saat itu saya masih miskin pengalaman dan kondisi keuangan saya cukup terjepit. Jadi, ketika seorang sahabat menawari untuk bekerja di sekolah internasional, saya langsung mengiyakan. Saya di minta melakukan microteaching dalam bahasa inggris. Lalu setelah diwawancarai oleh guru senior dan kepala sekolah, saya diminta menghadap sang direktur di Yayasan yang menaungi sekolah tersebut.

Mungkin karena semua guru menerima mentah-mentah tawaran gaji dari Yayasan, sang direktur tidak merasa perlu bicara soal gaji. Saya langsung disodori kontrak kerja dengan nominal yang sudah tertera. Sang direktur kaget ketika saya mengatakan bahwa saya mengharapkan lebih dari itu. Dia mengabulkannya. Itulah negosiasi gaji saya yang pertama. Selama belasan tahun, saya selalu menegosiasikan gaji saya dan hasilnya tidak pernah membuat saya menyesal.

Jadi, apa sih hal-hal yang penting dalam menegosiasikan gaji?

  1. Menguasai Bahasa Inggris

Bertahun-tahun mewawancarai calon guru yang melamar kerja, saya menemukan ada satu kesalahan fatal seorang fresh graduate (di luar jurusan pnendidikan bahasa inggris): mereka tidak belajar bahasa inggris. Mereka mengira karena bidang mereka sains, sosial atau bahasa Indonesia, mereka tidak perlu berbahasa inggris. Salah besar. Guru yang fasih berbahasa inggris dibayar jauh lebih tinggi dari pada yang tidak bisa. Dan bukan hanya soal uang saja. Tapi banyak sekali resource pembelajaran menarik di internet yang hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Bahkan bila Anda seorang guru bahasa Indonesia, Anda perlu untuk fasih berbahasa Inggris karena hal itu akan membuka kesempatan yang lebih luas. Anda bisa menekuni kurikulum Bahasa Indonesia Penutur Asing sehingga bisa mengajar orang-orang asing yang tinggal di Indonesia atau mengajar di institusi internasional. Selain mendapat penghasilan tambahan, Anda juga mempromosikan bahasa kita tercinta ini ke mancanegara.

Jadi kalau Anda seorang mahasiswa jurusan keguruan yang kebetulan membaca ini, belajarlah bahasa Inggris sekarang juga. Dapatkan TOEFL minimal 550 atau IELTS minimal 6.5. Jangan sampai Anda tidak belajar bahasa Inggris hanya karena mata kuliah itu tidak ada dalam jurusan Anda. Daftarlah kursus. Belajar dengan guru les privat. Atau bila dana Anda terbatas, carilah sumber-sumber online.

  1. Mengetahui Nilai Potensi Anda

Daftarkanlah keahlian Anda dan cari tahu berapa keahlian tersebut dibayar di pasaran. Jika Anda pandai fisika dan matematika, lihatlah kemungkinan untuk mengajar persiapan UN atau SMPTN. Lakukan riset berapa sih keahlian tersebut dihargai? Kalau Anda ingin dihargai di atas harga pasaran, Anda harus memiliki track record dan daya tawar yang lebih baik dari pada guru-guru lain. Kadang-kadang keahlian ini tidak selalu harus tentang pelajaran. Bila Anda menguasai bahasa asing, keterampilan di bidang seni, dan hal-hal lainnya yang dapat bermanfaat bagi sekolah atau Lembaga tempat Anda melamar pekerjaan, Anda akan punya nilai lebih. Bahkan seorang guru les privat pun dapat melakukan negosiasi pendapatan bila memiliki daya tawar. Karena saya memiliki pengalaman bertahun-tahun sebagai jurnalis yang menulis dalam bahasa Inggris, saya sanggup mengajar creative writing, IELTS, academic writing dan sebagainya,saya tidak pernah kuatir memasang rate di atas harga guru les privat pada umumnya. Jadi, semakin tinggi potensi yang Anda miliki, semakin mungkin bagi Anda untuk negosiasi gaji.

  1. Membangun Portfolio

Guru perlu membangun portfolio, jangan hanya sekedar mengajar sambil lalu. Jangan sampai setelah bertahun-tahun mengajar dengan keren, Anda tidak punya apapun untuk membuktikannya. Bukti-bukti aktivitas di kelas yang menarik akan menunjukkan betapa kompetennya Anda dalam mengajar. Karena itu, dokumentasikan kegiatan Anda dengan foto, video, buku dan sebagainya. Kalau ada testimoni orang tua yang cukup positif, Anda juga dapat mendokumentasikannya. Boleh juga Anda mendokumentasikan karya murid, misalnya, dengan membuat buku kumpulan lukisan dari murid atau buku kumpulan cerpen. Prakarya bertema sains, sosial atau seni juga bisa didokumentasikan sehingga bisa Anda tunjukkan pada saat interview.

  1. Kesempatan Terbaik Untuk Negosiasi Adalah Saat Mulai di Sekolah Yang Baru

Sayang sekali, tapi ini benar. Anda lebih mungkin mengalami kenaikan gaji secara signifikan bila Anda pindah ke sekolah yang baru. Saya tidak bilang Anda harus pindah-pindah sekolah setiap tahun. Sering berpindah-pindah pekerjaan juga dapat memperburuk track record CV Anda. Namun, bila Anda tidak puas dengan sekolah tempat Anda mengajar sekarang, mengeluh tahun demi tahun atau bergosip dengan rekan kerja guru lain tentang betapa menyebalkannya kepala sekolah atau direktur Yayasan, betapa kecilnya gaji dan sebagainya, tidak akan menyelesaikan masalah. Anda tidak puas dengan gaji, negosiasikanlah itu. Mungkin Anda didengarkan sehingga gaji tahun berikutnya lebih baik. Bila tidak didengarkan, Anda punya dua pilihan, resign atau kalau Anda tidak mungkin resign, bersabarlah dan tetaplah bekerja dengan baik. Mengeluh setiap hari hanya akan membuat jiwa Anda menderita. Anda tidak pernah tahu kan kalau tiba-tiba ada kesempatan baru?

  1. Kesempatan Terbaik Untuk Negosiasi Adalah Setelah Anda Ditawari Mengajar

Pada kesempatan ini, Anda tahu kalau mereka menginginkan Anda. Sang Kepala Sekolah atau pihak Yayasan menunjukkan ketertarikan. Mereka menawarkan pekerjaan tersebut. Anda pun bisa langsung menegosiasi gaji Anda. Jangan pernah menyebut gaji terlebih dahulu sebelum Anda punya kesempatan untuk membuat pihak sekolah menginginkan Anda. Nah, bila sekolah membutuhkan guru secara mendesak dan kebetulan Anda dalah calon yang cocok, besar kemungkinan permintaan Anda diterima.

  1. Negosiasi tidak selalu tentang uang saja.

Ketika saya bermaksud menegosiasi gaji di sebuah institusi, hal pertama yang saya lihat adalah seberapa mapan situasi keuangan institusi pendidikan tersebut. Caranya sederhana saja. Jangan tertipu dengan megahnya gedung atau fasilitas. Cari tahu berapa jumlah SPP atau paket belajar yang dibayar oleh setiap murid dan kalikan dengan jumlah murid di institusi tersebut. Anda akan mendapatkan gambaran umum pendapatan mereka sebelum dikurangi biaya operasional. Jika Anda bekerja di sekolah dengan pendapatan yang minimal, negosiasi gaji akan menjadi sulit. Institusi tersebut tidak akan sanggup membayar Anda. Namun Anda mungkin masih bisa menegosiasikan hal yang lain, misalnya tentang hari kerja, jam kerja, kesempatan training dan sebagainya.

  1. Siap Dengan Skenario Terburuk.

Hal terburuk yang dapat terjadi adalah ketika pihak manajemen menolak menaikkan gaji Anda. Namun ini tak berarti kiamat. Anda telah mencoba dan ditolak. Tidak apa-apa. Tetaplah tenang dan dengarkan alasan mereka. Bila Anda benar-benar tidak sreg dengan gajinya dan memilih resign, lakukan dengan sopan dan beradab. Tidak perlu marah-marah, apalagi berdebat dengan HRD Yayasan. Tinggalkanlah kesan yang baik. Jika Anda terpaksa bertahan di pekerjaan ini karena situasi keuangan, tetaplah lakukan tanggung jawab Anda sembari mencari pekerjaan lain. Jangan mengeluh dan bermalas-malasan dalam mengajar. Reputasi Anda lebih berharga dari pada uang. Jangan menghancurkannya hanya karena emosi sesaat.

Oke teachers, sebelum tahun ajaran berakhir, mulailah pikirkan mengenai ekspektasi Anda dari sisi finansial. Bangunlah portfolio dan dokumentasikan karya sebanyak mungkin. Tapi sebagai guru, kita tentu akan selalu inget yah, kalau menjadi seorang guru itu adalah sebuah panggilan. Dan reward tidak hanya soal uang saja, tapi juga kebahagiaan dan kepuasan batin. Pertimbangkan hal-hal ini juga ketika melakukan negosiasi gaji. Happy teaching 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s