5 Cara Guru Modern Membuat Anak Mencintai Buku

My fellow teacher, Anda mungkin sudah tahu bahwa Indonesia berada di peringkat bawah untuk literasi. UNESCO pernah merilis data yang menunjukkan bahwa indeks minat baca di Indonesia hanya 0,001. Itu artinya dari seribu orang, hanya ada satu yang memiliki minat baca. Menyedihkan ya? Padahal membaca bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berpikir, berimajinasi dan memahami konsekuensi dari sebuah tindakan. Nah, sebelum kita menuduh gadget sebagai penyebab utama anak-anak meninggalkan buku bacaan, kita sebagai guru modern harus intropeksi diri, apakah kegiatan membaca yang kita promosikan ke anak-anak sudah menjadi kegiatan yang seru dan menyenangkan? Berikut yang dapat kita lakukan di sekolah:

1. Menyediakan Perpustakaan Dengan Buku-Buku Yang Disukai Anak-anak

Kegiatan membaca haruslah menjadi kegiatan yang menyenangkan bukan hanya sebuah tugas. Karena itu, penting sekali untuk menyediakan buku-buku bagus dan menarik yang akan disukai anak. Penting sekali bagi guru untuk bisa menyeleksi bacaan anak sebelum meletakkannya di perpustakaan. Bacaan haruslah bersifat mendidik, tapi juga seru dan menarik sehingga anak tidak merasa bosan. Sediakan buku dalam berbagai genre: cerita rakyat, dongeng, drama, cerita petualangan dan fantasi atau cerita detektif anak yang seru. Secara khusus, anak-anak yang mengeksplorasi berbagai genre tulisan pada akhirnya akan menjadi pembaca seumur hidup.

2. Mengizinkan murid memilih bacaannya sendiri

Membiarkan siswa untuk memilih buku mereka sendiri sangat penting dalam membuat mereka membaca lebih banyak. Sering kali masalah buku adalah masalah selera. Karena guru biasanya berusia dua dekade lebih tua dari murid-muridnya, guru biasanya punya selera yang jauh berbeda dengan murid. Namun tak jarang guru “memaksakan” seleranya dengan alasan buku-buku tersebut “lebih mendidik.” Tentu tidak salah kita memberikan bacaan-bacaan yang lebih “klasik” pada anak-anak. Namun tidak berarti bacaan modern semuanya “tidak bermutu.” Kita hanya perlu bersikap lebih terbuka dan mau mempelajari lebih dahulu sebelum menghakimi sesuai tidaknya sebuah buku untuk anak. Tentu saja kita harus tetap ketat mengawasi supaya perpustakaan sekolah diisi dengan bacaan yang sesuai dengan umur siswa.

3. Membuka diri untuk selera yang lebih “modern”

Delapan tahun yang lalu, ketika saya mengajar desain grafis di sebuah SMA, sekolah tempat saya bekerja sering melakukan “razia dadakan” terhadap barang-barang yang dibawa siswa, salah satunya komik. Komik-komik tersebut akan disita di sekolah dan disimpan di lab computer tempat saya berkantor. Karena saya juga menyukai komik, saya jadi sering melihat-lihat komik sitaan tersebut. Dan banyak saya temukan komik-komik yang bagus dan mendidik. Namun rekan saya seorang guru yang tidak pernah membaca komik langsung bilang di hadapan murid-murid bahwa komik adalah hal yang “tidak bermanfaat” karena hanya untuk “bersenang-senang saja.” Dari pada membaca komik, lebih baik membaca buku pelajaran. Duh… mana bisa dibandingkan sih? Jawaban seperti inilah yang akan membuat murid-murid remaja ilfeel untuk bercerita tentang kesenangannya pada guru.

Butuh waktu setahun bagi saya untuk meyakinkan pihak sekolah membuka ekskul komik. Hanya dalam hitungan bulan setelah ekskul di buka di bawah bimbingan saya, tiba-tiba saja murid-murid saya yang berbakat menggambar bermunculan. Kami tidak hanya berhasil menerbitkan komik Pendidikan karakter di sekolah, tetapi murid-murid saya juga mememnangkan berbagai kompetisi desain dan menggambar di daerah Jakarta Utara saat itu. Kami membuat kompetisi komik di setiap acara-acara sekolah. Pada akhirnya literasi bisa menjadi kegiatan yang seru lho!

4. Menjadi guru yang mempromosikan kesenangan membaca

Guru adalah teladan bagi anak-anak. Siswa akan terinspirasi bila guru-guru mereka juga senang membaca. Jadi, jika Anda mencintai buku tapi tidak pernah memperlihatkannya, maka ini saatnya beraksi he..he… Tempel poster-poster buku yang bagus di ruang kelas, atau poster film yang diadaptasi dari buku. Luangkan waktu dengan anak-anak menonton filmnya dan membandingkannya dengan bukunya. Letakkan buku-buku keren di rak di kelas sehingga siapapun siswa yang menyelesaikan tugas lebih dulu dapat membaca buku-buku tersebut. Dengan demikian, Anda menjadikan kegiatan membaca sebagai reward. Kalau Anda punya blog atau media sosial dengan sejumlah murid sebagai pengikut Anda, promosikan buku yang Anda sukai pada mereka. Kalau murid-murid Anda sudah beranjak remaja, pastikan mereka memiliki akun goodreads supaya bisa terlibat dalam forum-forum pembaca buku.

5. Memperbanyak kegiatan membaca secara mandiri

Sisihkan waktu agar anak-anak membaca secara mandiri dari sebagian jadwal mereka. Jika kebiasaan ini dibangun secara aktif ini akan meningkatkan kosakata, pengetahuan mereka, bahkan mengeja. Kegiatan membaca secara mandiri ini perlu dilakukan sesering mungkin. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan tugas untuk membaca buku di rumah, lalu anak-anak harus menuliskan hal-hal menarik yang bisa mereka dapatkan pada buku tersebut.

Untuk kegiatan ini, ketika membuat tulisan tentang metode mempopulerkan gerakan literasi di sekolah, saya membuat worksheet yang bisa diisi. Silakan kunjungi halaman ini untuk mengunduhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s