Anak Berbakat Musik? Ini Yang Harus Anda Lakukan

Masa anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi dokter atau direktur bank sudah lewat, Moms. Demam K-Pop dan kehadiran Instagram telah membuat anak-anak ingin menjadi selegram, influencer, modern dancer, song writer, atau penyanyi K-Pop. Orang tua generasi milenial juga lebih senang bila anaknya punya bakat menyanyi, main musik, foto model dll. Cerita-cerita di Instagram juga sering dipenuhi oleh foto atau video amatir anak-anak yang sedang bermain musik atau menyanyi, yang direkam oleh orang tua mereka sendiri.

Moms, kalau Anda cukup beruntung memiliki anak-anak berbakat ini, berikut tips untuk mengeksplorasi bakat musik yang dimiliki sang buah hati:

1. Amati dengan seksama

Jika Anak menunjukkan ciri-ciri kecintaan dan kepekaan terhadap musik, amatilah apa yang sedang dia lakukan dan sejauh mana dia passion dengan hal tersebut. Musik apa yang selalu dia dengarkan? Apa sering dia lakukan untuk menyalurkan kecintaannya terhadap musik? Apakah dia menyukai gitar, drum atau biola? Apakah dia senang bernyanyi atau bahkan menciptakan lagu sendiri? Penting sekali untuk mengamati terlebih dahulu, Moms, bukan buru-buru memborbardir anak dengan mendaftarkannya pada berbagai les atau klub musik. Amati apakah dia benar-benar suka atau hanya sekedar sesaat saja.

2. Memilih alat musik

Ketika sepupu saya membawa putrinya yang berusia 6 tahun ke sebuah kursus musik, dia heran mendapati sang buah hati langsung menunjuk biola yang ada di pojok ruangan. Tidak ada satupun dari keluarganya yang bermain musik – amatir amaupun professional, apalagi alat musik seperti biola. Sepupu saya pun membujuk putrinya agar kursus piano saja karena piano lebih mudah untuk anak-anak dan mungkin dia bisa membantu membimbingnya di rumah. Tapi putrinya tidak mau dan tetap menginginkan biola. Akhirnya, memang bener Moms. Dia cepat sekali tune dengan biola dan akhirnya sering tampil dari panggung ke panggung.

Sahabat saya senang musik. Waktu kecil, disuruh les biola oleh orang tuanya. Dia hanya les beberapa lama saja dan meninggalkannya. Tetapi waktu SMP, ketika dibuka ekskul marching band di sekolah, hanya dalam waktu 10 menit pertama, dia sudah jatuh cinta pada terompet. Pada akhirnya dia mengeksplorasi alat musik tiup. Kini dia mencintai musik Jazz dan mulai serius dengan seksofon.

Jadi, ketika Anda memilih alat musik untuk anak, berikan kesempatan pada mereka untuk mencoba semuanya, minimal yang mainan dulu. Putar beberapa video instrumen dan lihat suara apakah yang lebih menarik perhatian mereka. Jangan memaksakan kehendak pada anak karena anak lebih mungkin bersemangat bila melakukan hal yang memang dia minati.

3.Daftarkan di kursus atau ekstrakurikuler sekolah

Bakat musik harus disalurkan, karena dengan sering-sering bermain musik, anak dapat mengembangkan keterampilan. Bila sekolah mengadakan ekstrakurikuler di bidang ini, jangan ragu untuk mendaftar. Bila tidak, Anda mungkin bisa mencari informasi kursus musik. Anak tetap bisa tampil di acara sekolah maupun di luar.

Nah, kalau Anda mendaftarkannya di tempat kursus, dia mungkin akan punya kesempatan untuk tampil, tetapi sang guru harus membagi perhatian dengan murid lain. Usahakan untuk mendaftar ke kelas yang jumlah anaknya sedikit. Jika Anda membayar guru privat, pastikan ada target yang dipenuhi dari setiap latihan. Bicarakan dengan gurunya, lagu-lagu apa saja yang akan dipelajari supaya hasil lesnya efektif. Rencanakan anggarannya, supaya les tidak berhenti di tengah jalan sehingga hasilnya kurang memuaskan. Dengan mempelajari target-target ayang diinginkan, uang les Anda tidak keluar sia-sia.

4. Biarkan Anak Untuk Meniru Terlebih Dahulu

Jika anak sudah lebih besar dan mereka mulai memiliki lagu, artis atau musisi favorit, biarkan anak untuk meniru idola mereka terlebih dahulu. Cara belajar yang paling cepat adalah dengan meniru. Jika anak sudah berhasil meniru, mereka bisa mulai mengembangkan style mereka sendiri.

5.Biarkan Mereka Mendalami Selera Musik Sendiri

Jangan menghakimi minat maupun keinginan mereka, Moms, terutama bila musik favorit Anak bukan selera Anda. Biarkan anak mendalami minat mereka sendiri. Kadang-kadang, perbedaan generasi bisa menyebabkan perbedaan selera. Sebagai contoh, film dan music bernuansa Korea jelas bukan favorit saya. Saya menghabiskan masa remaja saya mengoleksi lagu-lagu Westlife, Backstreet Boys dan MLTR. So…90s ya Moms? Sepupu saya yang beda umurnya jauh di bawah saya tergila-gila dengan BTS dan menonton hampir semua serial Korea dari genre romance hingga fantasi dan thriller. Anak-anak SD kelas 6 di sekolah tempat saya bekerja hampir semuanya bercita-cita jadi youtuber atau boyband gara-gara ketenaran BTS. Pada mereka yang mencintai musik Korea, saya menyarankan agar mereka serius mempelajari bahasanya supaya mereka juga tahu arti dari lagu-lagu yang mereka nyanyikan. It doesn’t hurt to know more languages.

Ada beberapa orang tua yang khawatir K-Pop kan memberi pengaruh buruk pada anak-anak remaja mereka. Alasannya operasi plastik di kalangan artis Korea sudah menjadi tren dan gaya hidup hedonisme beberapa artis dikhawatirkan akan berpengaruh buruk pada moral anak-anak remaja, demikian kekhawatiran orang tua. Menanggapi ini, saya pernah mencoba survei beberapa profil dan berita tentang artis Korea. Saya menemukan setiap artis, seperti manusia pada umumnya, ada yang memberi pengaruh baik, ada pula yang buruk, sehingga kita tidak bisa melakukan generalisasi. Malahan saya menemukan Kim Nanjoon yang lebih dikenal dengan nama panggung Rap Monster adalah remaja jenius dengan IQ 149 dengan skor TOEIC hingga 900 ketika dia duduk di bangku SMP!

6. Jangan mengeksploitasi bakat anak demi ambisi

Punya anak yang pandai bermain musik tentu membanggakan, Moms. Siapa sih yang tidak bangga kalau anak terus menang lomba dan tampil dimana-mana. Syukur-syukur diundang untuk wawancara di majalah atau televisi. Tapi jangan sampai anak melakukan semuanya hanya karena ambisi orang tua. Jangan gara-gara pengejaran ambisi, anak terlalu lelah hingga studinya terbengkalai. Anak harus tetap punya kesempatan bermain dan menikmati masa kanak-kanak mereka. Kalau mereka memutuskan untuk fokus dan serius pada musik, biarlah itu karena keinginan mereka sendiri, bukan manipulasi dari orang tua yang haus ketenaran.

Pada akhirnya, setiap anak memiliki keunikan tersendiri. Doronglah mereka untuk mengeksplorasinya dengan gembira. Selamat berlatih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s