5 Ciri Guru Yang Asyik

Guru favorit memang tak terlupakan. Saya tidak akan pernah melupakan Pak Yunus, guru SD saya yang menemukan bakat menulis saya pertama kalinya dan mendorong saya membacakan tulisan saya di depan kelas, atau Bu Ros guru SMP yang memperkenalkan keindahan sastra pada saya, atau Pak Hasan yang selalu membawa bola basket pada jam fisika di kelas, yang menginspirasi saya untuk berpikir kritis dan mencintai sains, juga guru biologi saya yang rambutnya cokelat keriting dan selalu menerangkan topik pubertas dengan humor. Saya menyukai biologi hingga hari ini karena punya guru yang asyik.

Nah, dari mereka saya belajar bagaimana sih caranya untuk menjadi guru yang asyik?

1. Guru yang asyik memiliki selera humor.

Anda tidak harus pandai melucu seperti para stand up komedian. Dan jujur saya pun bukan tipe orang yang pandai melucu. Malahan guru-guru favorit saya di sekolah dulu kebanyakan tipe guru-guru yang serius. Tapi mereka semua setidaknya punya satu kesamaan. Mereka tahu bagaimana caranya tertawa bersama siswa. Mereka bisa menanggapi dengan ringan ketika salah satu siswa membuat lelucon, tanpa harus kehilangan kendali dalam menguasai kelas. Mereka bisa bercanda dengan siswa di luar jam pelajaran. Atau mereka bisa membawa suasana riang di dalam kelas dengan semangat dan senyum yang menyenangkan. Pelajaran yang sulit pun dapat menjadi asyik kalau guru yang mengajarkannya bisa membawa kegembiraan ke dalam kelas. Ketika stress berkurang, otak akan mengasosiasikan pengalaman belajar sebagai sesuatu yang positif sehingga murid pun lebih mudah mengingat materi yang diajarkan.

2. Guru yang asyik pandai berkomunikasi dengan orang tua.

Seringkali kesuksesan tidak dapat diraih seorang diri, diperlukan kerja tim untuk mencapainya. Jika tim marketing di sebuah perusahaan perlu bekerja sama dengan semua pihak agar susses memenuhi target penjualan, seorang guru juga harus bekerjasama dengan banyak pihak agar murid-muridnya berhasil. Dalam hal ini, komunikasi antara guru dan orang tua adalah hal yang krusial bagi kesuksesan siswa. Kita bisa mati-matian mengajar anak, tapi tanpa kerjasama dari orang tuanya, sangat sulit untuk membuatnya berhasil. Karena itu, guru yang asyik tahu cara mendapatkan perhatian maupun rasa hormat dari orang tua murid. Dia tahu bagaimana melibatkan orang tua dalam proses mendidik anak.

3. Guru yang asyik mengeskplorasi metode atau teknologi baru.

Diperlukan keberanian untuk menghadirkan teknologi ke ruang kelas. Jika generasi Z yang menjadi murid Anda sudah bermain dengan HP orang tuanya sejak belajar merangkak dan minum susu dari botol, maka memutar video di kelas, membuat worksheet interaktif, atau bahkan mobil-mobilan lego dengan energi listrik alternatif bukanlah hal yang tabu lagi.

Terdengar berlebihan? Sebenarnya menghadirkan teknologi itu tidak perlu muluk-muluk. Ada beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan: memutar video dengan worksheet yang mendukung, memberikan kesempatan pada anak untuk presentasi dengan mic, bahkan mengeksplorasi lego!

Karena itu, bila Anda benar-benar belum tahu cara membuat slide presentasi power point atau memasukkan nilai ulangan dengan Ms.Excel, maka segeralah belajar, jangan tunda besok. Sekolah perlu memberi perhatian dan memfasilitasi guru-guru untuk belajar. Jangan sampai kita mendidik murid untuk menghadapi persaingan di abad 21 dengan metode ala abad 18!

4. Guru yang asyik memberikan dukungan emosional.

Ada kalanya anak-anak lebih membutuhkan dukungan emosional dari pada sederet ilmu baru yang harus dihapalkan. Mendekatkan diri pada murid akan memperlancar komunikasi Anda dengan mereka dan memungkinkan mereka untuk mendengarkan kata-kata Anda. Jangan sampai murid menurut pada Anda hanya karena dia takut. Perjalanan Anda dalam mengajar akan lebih mudah ketika murid-murid mendengarkan Anda karena mereka mencintai Anda. Seorang guru bukan hanya sekedar mengajar saja, tetapi harus menjadi mentor yang baik.

5. Guru yang asyik tidak pelit pujian

Kita sering menegur murid kita yang nakal atau yang tidak mengerjakan PR. Tetapi ketika murid tersebut mengerjakan PR atau bisa duduk diam di kelas, apakah kita memujinya? Atau kita mengabari orang tua murid ketika anaknya melakukan kesalahan di sekolah. Apakah kita juga mengabari bila mereka bersikap baik selama di sekolah? Jika Anda hanya menghukum anak bila anak bersalah, tetapi tidak memberikan pujian ketika anak melakukan hal yang benar karena “itu memang sudah seharusnya” Anda tidak memberinya inspirasi untuk berbuat baik. Saya memercayai motivasi yang terbesar tidak dapat didatangkan dari kemarahan, tetapi dari kepercayaan dan penghargaan.

Pujilah murid Anda sesering mungkin. It doesn’t hurt, really 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s