Bagaimana Buku Dapat Mengubah Hidup Anak Anda?

“Mengapa anak-anak harus membaca?” 

“Supaya mereka pintar.”

Terlalu sering kita mendengarnya hingga lambat laun pernyataan itu menjadi klise. Kehadiran berbagai gadget dengan segera menggeser minat baca anak ke video atau games. Kalau menonton Youtube atau bermain Pokemon jauh lebih menyenangkan, mengapa harus membaca?

tiniKetika saya masuk kelas 1 SD, ayah membelikan buku cerita berjudul,”Tini di Pasar Malam” dan “Tini Naik Balon.” Saat itu, tidak ada pasar malam di kampung saya, apalagi balon udara! Saya begitu terpesona dengan gambar-gambar menarik dalam buku cerita itu, yang mengisahkan belahan dunia lain: Anak-anak dengan berbagai warna rambut dan kulit yang berbeda-beda, daun musim gugur yang berwarna-warni dan boneka salju yang menakjubkan. 

Dua puluh tahun kemudian, saya akhirnya dapat melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya saya baca di dalam buku cerita: mengunjungi pasar malam, naik balon udara, mendapatkan beasiswa dan bekerja di Amerika serta mengajar anak-anak dengan berbagai warna rambut di Children Museum dan Goodman Center di Madison. Bahkan menerbitkan buku.

Semua itu tidak akan saya peroleh jika ayah saya tidak menyisihkan penghasilannya yang tidak seberapa dan menempuh perjalanan sehari semalam jauhnya, naik speedboat, kapal feri dan bus hanya untuk ke Kota Pontianak dan membelikan saya buku-buku cerita. Buku-buku cerita sangatlah berharga, karena saya tahu ayah saya berjuang dan bekerja keras untuk mendapatkannya. 

Membaca memiliki banyak manfaat, lebih dari sekedar membuat anak-anak bertambah pintar. Manfaat membaca bagi anak-anak diantaranya:

  1. Mengembangkan Keterampilan Berkomunikasi. 

Dengan banyak membaca, anak-anak akan memiliki kosakata yang lebih luas. Mereka akan lebih cepat belajar membuat kalimat, menulis kisah, menyampaikan cerita, pidato, puisi dan hal-hal lain yang akan membangun kemampuan komunikasi mereka di masa depan. Kemampuan berkomunikasi adalah syarat utama menjadi pemimpin. 

  1. Membebaskan imajinasi dan kreativitas.

Buku-buku cerita dapat membawa anak-anak menjelajahi dunia lewat halaman-halamannya. Setiap kata yang diserap anak akan menstimulasi sel-sel otak untuk menciptakan berbagai imajinasi yang dapat merangsang kreativitas dan mendorong lahirnya ide-ide baru. Kita bisa melihat bagaimana cerita fiksi yang dituturkan Jules Verne telah mendorong lahirnya penemuan-penemuan baru seperti kapal selam dan pesawat terbang.

  1. Memberikan Pengetahuan Menarik.

Buku-buku dapat mengajarkan apa saja kepada anak-anak. Mulai dari warna langit pada masing-masing planet, bagaimana beruang kutub bertahan hidup, bagaimana Thomas Alva Edison menciptakan lampu, mengapa kepiting berjalan miring hingga bagaimana para semut memperlakukan ratunya. Saya masih ingat betapa takjubnya saya ketika membaca tentang pelayaran Magelhaens mengelilingi bumi ketika masih duduk di bangku kelas 3 SD.

  1. Menginspirasi Tanpa Menggurui

 Pikirkanlah. Berapa banyak kata “jangan” yang kita ucapkan pada anak-anak kita dalam sehari? Pengalaman saya saat menjadi guru SD, dalam 5 menit bisa lebih dari sepuluh kali kata “jangan”yang saya keluarkan.

 “Jangan ribut.”

“Jangan mengejek temanmu.”

“Jangan berebutan mainan.”

“Jangan memanjat, nanti jatuh.”

 Nah…banyak sekali kan? Padahal kata “jangan” adalah stimulus yang buruk bagi proses belajar anak. Jadi mengapa tidak menukar kalimat “jangan mengejek temanmu” dengan menceritakan kisah dongeng “bebek buruk rupa?” 

Di sekolah tempat saya mengajar, ada kewajiban membaca buku setiap 15 menit pertama sebelum pelajaran dimulai. Saya masih ingat bagaimana saya menceritakan kisah bebek buruk rupa dari buku dongeng yang ada di kelas, di hadapan 29 murid saya yang masih duduk di kelas 1 SD. Anak-anak begitu terbawa hanyut dalam cerita itu dan merasakan kesedihan bebek yang buruk rupa itu sehingga berjanji untuk tidak akan mengejek teman-temannya.

ugly duck

Keesokan harinya, salah seorang murid saya muntah dikelas dan setelah itu menangis karena malu. Salah seorang anak menertawakannya, tapi anak itupun segera ditegur teman-temannya. “Bobby sedang sakit, jangan diejek. Nanti jadi sedih,” kata salah seorang anak perempuan. Saya pun mengiyakan, sembari kerepotan menangani kekacauan tersebut. Sementara saya menelpon orang tua Bobby untuk menjemput anaknya yang pucat dan lemas, saya tersentuh karena anak-anak lain -termasuk anak yang mengejek Bobby- bergerak membantunya tanpa diminta. Mereka membawakan tissue, merapikan buku-bukunya dan membawakan tasnya saat mengantarnya ke lobi depan. Sebulan telah berlalu semenjak kejadian itu, dan tak sekalipun saya mendengar peristiwa itu diungkit untuk dijadikan bahan ejekan. 

 Karena itu, terhadap pertanyaan, “Mengapa anak-anak harus membaca?” saya akan menjawab, “Karena buku cerita sanggup mengubah hidup mereka.” 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s