6 Cara Menangani Kelas Yang Ribut

Sebagai guru, kita semua pernah harus menangani anak-anak yang ribut di kelas. Anak-anak yang terlalu aktif ini biasanya punya energi yang tinggi sehingga tidak bisa diam, bermain-main ketika guru menerangkan pelajaran, iseng mengganggu temannya atau bahkan berlari-lari di kelas. Anak-anak perempuan yang aktif barang kali tidak seiseng anak lelaki yang mengganggu temannya, tetapi biasanya mereka tidak bisa berhenti berceloteh. Mereka mengobrol dengan teman-temannya pada saat guru menerangkan pelajaran sehingga tak jarang guru menjadi jengkel.

Guru yang mengajar di kelas kecil memang harus ahli banget dalam memanajemen kelas. Terlalu keras mendisiplin anak-anak, memberikan hukuman-hukuman, marah-marah di dalam kelas mungkin bisa membuat anak-anak takut dan diam, tetapi dapat menghancurkan psikis anak. Jangan sampai anak-anak trauma karena guru yang sudah terlanjur emosi. Namun sebaliknya, bila guru terlalu lembut dan baik hati, anak-anak seringkali menjadi tak terkendali. Jadi bagaimana sih cara yang efektif untuk memanajemen kelas?

1. Memahami kepribadian setiap anak

Ini prinsip yang sangat sederhana. Hapalkan nama murid-murid Anda. Jangan hanya yang nakal atau yang pintar saja. Tapi benar-benar kenali semua murid, mulai dari menghapalkan namanya. Lihatlah dua skenario berikut ini, manakah yang lebih efektif?

“Tolong kalian jangan ribut! Jangan mengganggu teman!”

“Bobby, duduk! Kerjakan soal matematikamu.”

Pada skenario pertama, Bobby tidak akan peduli karena gurunya berbicara pada semua murid. Tapi pada skenario kedua, Bobby akan menyadari gurunya bicara secara pribadi padanya, bahwa dia harus duduk dengan tertib di kelas. Jika guru dapat mengenal murid-muridnya, guru dapat menggunakan strategi yang sesuai dengan kepribadian murid. Ada anak yang bisa tertib ketika diminta secara verbal. Ada anak yang mungkin memerlukan tuntunan lebih jauh: tepukan di pundak atau tatapan mata secara langsung. Atau menyita penggaris yang dia gunakan untuk memukul temannya.

2. Menggunakan sinyal pengalih perhatian

Sinyal pengalih perhatian cocok digunakan untuk anak-anak kelas kecil terutama SD kelas 1 dan 2. Mereka masih senang bereksperimen dengan tepukan tangan. Bertepuk tangan secara bersamaan akan melatih konsentrasi dan membuat anak-anak merasa bagian dari grup. Mulai dari yang sangat sederhana seperti tepuk tunggal (satu kali), tepuk ganda (dua kali), tepuk diam (tepuk tangan tiga kali sebelum memberi isyarat diam di bibir), menghitung mundur bersama-sama seisi kelas dimana anak yang berkeliaran di kelas sudah harus duduk rapi saat hitungan mundur berakhir, dan masih banyak cara yang bisa digunakan.

3. Mengimplementasikan lebih banyak aktivitas dalam belajar

Secara umum, anak-anak kelas kecil hanya bisa duduk diam dan berkonsentrasi selama 10 menit. Jika anak-anak sanggup duduk selama 2 jam artinya mereka memaksa diri mereka untuk terbiasa melakukannya. Anak-anak yang nakal biasanya memiliki energi yang lebih tinggi sehingga mereka tidak betah duduk diam di kelas. Karena itu aktivitas di kelas akan sangat membantu anak-anak menyalurkan energinya. Biasanya semakin siang,anak-anak akan semakin lelah dan tidak fokus dalam belajar. Karena itu, saya biasanya menyelipkan aktivitas-aktivitas seperti menyanyi, senam, mewarnai, dan bermain pada kelas yang lebih siang.

4. Memindahkan tempat duduk

Cara ini mungkin klasik, tapi seringkali cukup efektif. Tempatkan anak-anak yang aktif untuk duduk di depan, dekat dengan meja guru sehingga mempermudah pengawasan. Sesama anak-anak aktif tidak boleh duduk bersama-sama agar mereka tidak saling menganggu. Mendudukkan anak yang aktif dengan anak yang diam juga harus dilakukan dengan pengawasan dan pertimbangan yang cukup. Jangan sampai anak yang aktif malah mengganggu anak pendiam tersebut. Cara lain yang dapat dicoba adalah membiasakan anak-anak duduk berkelompok. Sebar anak-anak yang aktif dalam kelompok yang berbeda-beda dan bagilah tugas masing-masing kelompok untuk saling mengingatkan bila temannya terlalu banyak mengobrol atau keasyikan bermain sehingga tidak mengerjakan tugas. Cara ini baru dapat dilakukan kalau Anda benar-benar mengenal setiap murid sehingga bisa tahu siapa yang cocok duduk dengan siapa.

 5. Menghilangkan Semua Pengalih Perhatian

Anak-anak yang aktif mudah sekali teralih perhatiannya, entah oleh alat tulis lucu milik teman, mainan, atau bahkan diajak bermain oleh teman lain. Suatu kali, murid saya pernah membawa satu set krayon starwars hadiah tantenya dari luar negeri. Begitu dia memamerkan krayonnya itu, hampir seisi kelas mengerubunginya sehingga saya harus menyita krayon tersebut. Karena itu pastikan di meja mereka tidak ada barang-barang yang tidak dibutuhkan.

6. Putuskan Batas Toleransi Anda

Kadang-kadang, energi guru bisa habis kalau harus meladeni setiap kejadian. Hanya guru kelas kecillah yang paham betapa melelahkannya menangani puluhan anak-anak kecil yang ribut dan berlarian di kelas. Pada awal semester, setidaknya dibutuhkan setengah jam hanya untuk membuat anak-anak merapikan bekal makanannya setelah jam istirahat dan kembali fokus belajar. Belum lagi anak-anak yang iseng menarik rambut temannya, mematahkan penggaris temannya, penghapus atau pensil yang hilang, minuman yang tumpah di kelas, anak-anak yang muntah, bahkan hingga anak-anak yang ngompol di celana.

Kalau kita mengukur total chaos yang menguras energi setiap hari, kita tahu seorang guru tidak mungkin menangani SEMUA masalah. Kadang ada hal-hal kecil yang masih bisa ditoleransi, putuskanlah dimana batasnya. Ada kalanya ada hal-hal yang tidak perlu ditanggapi. Anak bermain-main kotak pensil di mejanya saat jam pelajaran berlangsung? Tegurlah supaya fokus dan lanjutkan menerangkan pelajaran. Hanya bila dia tidak berhenti, Anda perlu menyita kotak pensilnya. Anak mengeluh penghapusnya hilang? Tak perlu menghentikan pelajaran untuk mencari-cari di kolong meja. Tegurlah supaya anak lebih bertanggung jawab. Anda dapat menyuruh anak-anak mencarinya setelah menjelang jam pulang sekolah. Ingatkan orang tua juga agar memberi label nama pada setiap alat tulis yang dimiliki anak.

Pada akhirnya, jika Anda menjadi guru, Anda perlu memiliki passion dengan pekerjaan Anda. Jika Anda mencintai pekerjaan Anda, kelas yang ribut tidak akan membuat Anda mengamuk, tapi justru menjadi tantangan yang seru untuk ditaklukkan. Tariklah napas dalam-dalam. Selamat mengajar 😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s