5 Cara Mempopulerkan Gerakan Literasi di Sekolah

Dalam hal minat baca, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain, seperti yang ditunjukkan dari hasil survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, dimana kita menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Kenyataan ini sangatlah menyedihkan karena membaca sangatlah penting meningkatkan kecerdasan maupun sikap kritis. Karena itu, pemerintah pun mulai menghimbau para pendidik untuk mencanangkan gerakan literasi di sekolah masing-masing.

Tentunya cara memotivasi minat anak maupun remaja sangatlah berbeda. Tulisan ini akan membahas gerakan literasi khusus untuk jenjang SD. Pada anak-anak SD, sekedar menyuruh mereka membaca tidaklah cukup. Apalagi pada anak-anak kelas kecil. Saat saya mengajar kelas 1 SD, saya ingat pada jam literasi anak-anak hanya melihat gambar di buku-buku yang disediakan, lalu mengajak teman-temannya melihatnya sehingga membuat keributan di kelas. Pada anak-anak yang lebih besar, mereka lebih senang bermain bola daripada pergi ke perpustakaan. Karena itu, gerakan literasi di sekolah harus benar-benar memiliki program-program kreatif yang dapat menumbuhkan minat baca anak.

Hal-hal menarik yang dapat mempopulerkan gerakan literasi di Sekolah Dasar diantaranya:

1. Membaca Dengan Suara Nyaring

Kegiatan ini efektif untuk anak-anak SD kelas 1 dan kelas 2 yang barangkali belum semuanya lancar membaca. Pada anak-anak kelas 1, sebaiknya bacaan yang diberikan sama sehingga guru bisa memimpin anak-anak membaca di depan kelas sehingga anak-anak yang belum lancar membaca bisa berlatih dengan teman-temannya.

2. Membiarkan Anak Memilih Bacaannya Sendiri

Untuk anak-anak yang sudah lancar membaca, berikan mereka kebebasan untuk buku bacaan mereka sendiri. Tentunya sebagai guru, kita harus memastikan kalau buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah memang sesuai dengan usia anak. Jadikan kegiatan literasi sebagai hal yang menyenangkan bagi anak sehingga anak tidak akan membaca hanya karena terpaksa.

3. Kegiatan Mendongeng (Storytelling)

Percayalah, anak-anak jauh lebih senang mendengarkan dongeng dari pada diceramahi dengan nasihat-nasihat panjang lebar. Ceramah yang panjang lebar hanya akan membuat anak-anak bosan sehingga mereka tidak mendengarkan. Karena itu, apabila saya ditugaskan menjadi Pembina pada saat upacara maupun morning assembly, saya lebih senang bercerita daripada memberikan nasihat-nasihat. Bagi saya, pesan moral dalam cerita tersebut sudah sekaligus menjadi “nasihat.” Saya ingat ketika saya bercerita tentang kisah seekor kura-kura di sekolah bawah laut yang saya karang sendiri, anak-anak ingat dengan cerita itu hingga berminggu-minggu. Dan mereka ingat bahwa cerita itu mengajarkan mereka untuk peduli pada teman-temannya.

4. Menyediakan Jam Khusus Literasi

Pemerintah menghimbau agar 15 menit pertama sebelum jam pelajaran, atau yang lebih dikenal sebagai jam nol, digunakan sebagai jam literasi. Namun sekolah boleh saja menyediakan jam lain atau hari secara khusus untuk membangun kebiasaan ini secara rutin. Perlu diperhatikan, menyediakan jam saja tidak cukup, guru-guru perlu memikirkan bagaimana membuat jam tersebut menjadi efektif.

5. Membuat Desain “Aku dan Buku Favoritku” Pada Mading Kelas

Pernahkah Anda membawa anak-anak ke toko buku? Biasanya anak-anak senang sekali dengan buku-buku di toko karena buku-buku tersebut dipajang dan disusun dengan menarik. Jika pihak sekolah ingin menggalakkan kegiatan literasi, sebaiknya suasana kelas dan perpustakaan juga didekorasi dengan buku-buku sebagai pajangan yang menarik. Boleh juga menambahkan foto-foto guru atau anak yang sedang membaca pada pojok “Aku dan Buku Favoritku”  atau bila memungkinkan, kelas didesain menjadi seperti kafe buku. Intinya, suasana membaca harus dibangun.

6. Mengundang Penulis Buku Anak

Ini tentu bisa menjadi acara yang seru bagi sekolah. Apalagi bila sang penulis dapat memberikan workshop bagi anak-anak yang gemar menulis. Saya sendiri merasa ketika saya mengunjungi sekolah-sekolah untuk mengadakan workshop menulis, murid-murid yang tadinya tidak terlalu senang membaca dan menulis, akan menaruh minat karena ikut dalam workshop literasi yang seru.

7. Guru Yang Senang Membaca

Pada akhirnya, guru harus memberi teladan dengan banyak membaca juga. Anak-anak SD masih dalam taraf usia yang senang meniru orang dewasa sekitarnya. Karena itu, guru-guru pun harus senang membaca. Di tengah-tengah kesibukan mengajar, ada baiknya kita membuat rencana buku-buku yang perlu dibaca sehingga bisa menyisihkan waktu untuk melakukannya. Karena saya mengajar di beberapa tempat dan juga aktif sebagai penulis, kadang-kadang saya pergi pagi-pagi buta dan pulang malam sehingga satu-satunya waktu untuk membaca buku adalah ketika sedang dalam perjalanan.

8. Memberi Tugas Review Buku Yang Praktis

Boleh saja Anda menugaskan anak-anak untuk membuat resensi buku. Namun bila di setiap tugas membaca, anak harus membuat resensi, anak bisa menjadi malas membaca karena tahu setelah ini , “PR” nya bertambah. Saya cukup pengalaman dengan hal ini, terutama karena pelajaran yang saya tangani – Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris – mewajibkan anak untuk membaca setiap hari. Karena itu, sebaga alternatifnya, saya berusaha membuat worksheet yang simple saja. Dengan worksheet ini, saya perkirakan anak hanya membutuhkan 10-15 menit sehari untuk membaca teks dan menyelesaikannya. Dengan demikian, target membaca terasa ringan, walaupun dilakukan secara rutin.

Free Download: 

Worksheet Literasi Buku Nonfiksi

Worksheet Literasi Membaca Artikel Sains

Worksheet Literasi Membaca Cerpen

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s