4 Alasan Guru Memanggil Orangtua ke Sekolah

Mom, respon yang paling sering saya terima sebagai pengajar di sekolah ketika saya mengirim pesan untuk memanggil orang tua murid adalah, “Aduh ada masalah apa ya Miss? Apalagi yang dilakukan anak saya?” Padahal kalau guru memannggil orang tua ke sekolah belum tentu karena anaknya nakal. Oke, tenang dulu, Mom. Bagaimana sebaiknya menghadapi panggilan dari pihak sekolah? Kuncinya adalah menanyakan pertanyaan dan memberikan respon yang tepat.

Yuk, kita lihat skenario berikut ini:

Skenario 1: Guru berkata, “Bobby kesulitan mengikuti pelajaran.”

Jangan langsung berasumsi kalau anak Anda bodoh. Ada banyak penyebab menurunnya kemampuan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah, misalnya ada masalah di rumah atau masalah dengan teman-temannya di sekolah. Atau bisa juga karena dia tidak memperoleh dasar-dasar yang cukup untuk mengikuti pelajaran tersebut. Misalnya, seorang anak yang kesulitan dalam mengerjakan soal perkalian di kelas 2 SD barangkali disebabkan karena dulu dia sakit keras dan tidak masuk sekolah pada saat kelas 1 SD dulu, ketika sang guru mengajarkan materi penjumlahan berulang.

Hindari respon yang negatif seperti “Dulu waktu dengan Guru A, anak saya pintar. Kok sekarang jadi nggak bisa ya?” Atau “Memang anak saya tidak suka membaca / matematika / bahasa inggris.” Respon yang defensif akan menghambat komunikasi. Fokuslah pada solusi. Bila guru memanggil Anda, artinya dia peduli dengan perkembangan anak dan menganggap keterlibatan Anda penting untuk kemajuannya.

Respon yang tepat: Tanyakan pada guru secara spesifik di bagian mana sang buah hati bermasalah dengan pelajarannya? Misalnya dia bermasalah dalam bahasa inggris. Tanyakan apakah di bagian spelling atau grammar? Apakah dia hanya bermasalah di satu pelajaran saja atau semua pelajaran? Dan tanyakan solusinya. Bagaimana Anda dapat membantu? Jika perkembangan anak sangat terlambat, misalnya dia belum bisa mengeja saat duduk di kelas 3 SD, Anda perlu memperhatikan apakah ada tanda-tanda dia berkebutuhan khusus. Mungkin dia menderita dyslexia sehingga butuh terapi khusus untuk belajar mengeja.

 

Membuat rencana: Bimbinglah anak belajar di rumah. Anda bisa saja membayar guru les privat, tetapi tidak berarti Anda bisa lepas tangan. Dalam seminggu dua minggu, pantau perkembangannya dalam mengerjakan soal latihan maupun ulangan harian. Teruslah menjalin komunikasi dengan guru untuk melihat perkembangannya. Guru yang baik akan senang bekerjasama dengan orangtua untuk meningkatkan mutu belajar anak. Bila tidak ada perkembangan sama sekali, mungkin anak membutuhkan bantuan psikolog atau konselor untuk mengidentifikasi permasalahannya.

Skenario 2: Guru berkata, “Bobby membuat keributan di kelas.”

Respon yang tepat: Cari tahu apa yang dia lakukan. Apakah dia bawel, terus mengobrol, berteriak atau berlari-lari di dalam kelas? Apakah dia mengganggu teman-teman sekelas? Sebelum Mom marah-marah dan menghukumnya, tanyakan dulu padanya mengapa dia melakukan hal-hal tersebut. Anak-anak seringkali tidak tahu bagaimana cara yang sehat untuk menyampaikan keinginan dan kegelisahan mereka. Mereka mungkin nakal karena ingin mencari perhatian atau memiliki energi tinggi yang harus disalurkan. Anda juga perlu memperhatikan apakah ada tanda-tanda berkebutuhan khusus seperti ADHD.

Membuat rencana: Menemukan masalah yang menyebabkan anak nakal adalah hal terpenting untuk mengatasi kenakalannya. Bila anak nakal karena haus perhatian, luangkanlah lebih banyak waktu untuk memberinya perhatian dan melakukan aktivitas bersama. Bila anak nakal karena energinya yang tinggi, Anda perlu memberi kesempatan menyalurkannya dengan mengikutsertakannya dalam ekstrakurikuler olahraga atau bela diri. Teruslah menjalin komunikasi dengan guru. Bila sikap anak tak berubah, mungkin dia perlu diberikan tes ADHD.

 Skenario 3 : Guru berkata, “Bobby kelihatan gelisah dan menangis di kelas”

Respon yang tepat: Pastikan Anda mengetahui apa yang dimaksud dengan kata “gelisah” secara spesifik. Apakah dia murung seharian? Apakah dia menggigiti kukunya? Apakah dia menangis? Apakah dia tidak mau bicara? Apakahdia sakit perut dan bolak-balik ke toilet? Jika anak menangis pada pagi hari dan tidak mau ke sekolah, mungkin ada masalah yang lebih besar.

Membuat rencana: Pahami apa yang terjadi dengan anak dengan menanyakan pertanyaan yang tepat.Jangan mencecarnya. Tetapi tunjukkan kalau Anda menyayanginya dan mau mendengarkannya. Seorang anak yang pemalu bisa saja sakit perut saat disuruh tampil menyanyi di depan kelas. Kalau begitu, tanyakan apa yang dapat membuatnya merasa lebih nyaman? Apakah akan lebih baik bila dia menyanyi dengan beberapa temannya? Ajakdia untuk latihan pernapasan. Anda juga perlu mewaspadai kemungkinan adanya kekerasan di sekolah (bullying)? Apakah anak diancam oleh temannya? Apakah dia diejek? Bagi orang dewasa, ejekan-ejekan di halaman sekolah mungkin bukan apa-apa, tetapi itu dapat menjadi pengalaman yang traumatis pada anak.

Skenario 4: Guru berkata, “Bobby melakukan kekerasan (bullying) terhadap temannya.”

Lingkungan sekolah yang baik tidak akan pernah metolerir kekerasan termasuk kekerasan fisik, verbal maupun psikologis. Bullying adalah masalah serius yang dapat membuat anak trauma di kemudian hari. Jangan menganggap remeh bullying dengan menganggapnya kenakalan anak-anak biasa. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini kalau mengejek temannya dengan julukan-julukan yang menghancurkan harga dirinya atau mengajak teman-temannya berkomplot memusuhi satu anak bukanlah perbuatan yang dapat diterima.

Respon yang benar: Bila anak Anda melakukan kekerasan terhadap anak lain, cari tahu seberapa dalam tindak kekerasan yang dilakukannya. Di bagian mana dia memukul temannya? Kalau dia mengejek temannya, kata-kata apa yang dia gunakan? Apa akibatnya terhadap anak yang menjadi korban? Apakah korban mengalami luka-luka? Atau menangis? Kemudian cari tahu mengapa anak anda melakukannya? Apakah karena pengaruh teman-temannya? Apakah dia menyesal dan meminta maaf? Bila anak Anda bersalah, dia harus menunjukkan tanda-tanda penyesalan dan bertanggung jawab untuk membereskan masalahnya. Jika anak melakukan kekerasan karena ingin membela diri atau membalas perbuatan temannya, maka Anda dapat mendiskusikannya dengan guru. Sang guru perlu bicara dengan anak-anak yang mengalami konflik tersebut secara terpisah dan mempertemukan mereka untuk mendamaikan mereka. 

Seringkali anak melakukan bullying karena tumbuh dalam lingkungan rumah yang penuh kekerasan. Misalnya ketika anak melihat sang ayah memukul ibunya atau dirinya dan adik-adiknya, dia akan mengalami luka batin dan menganggap kekerasan adalah hal yang normal. Bagi rekan-rekan guru, penting untuk memperhatikan latar belakang keluarga anak sebelum buru-buru memberi hukuman. Bila murid saya datang ke sekolah dengan luka-luka dan memar, dengan segera pihak sekolah akan memanggil orangtuanya untuk mengajak bicara.

Ketika murid saya mendorong temannya hingga terjatuh, saya akan memastikan dia meminta maaf dan membalut luka yang diakibatnya pada korban di bawah pengawasan saya. Saya juga akan memanggil orang tua dari kedua belah pihak, dan murid yang melakukan kekerasan tersebut akan menulis surat perjanjian untuk tidak mengulangi perbuatannya. Biasanya murid tersebut akan sangat menyesal, bukan karena hukuman dari saya, tetapi karena dia melihat luka yang diakibatkannya ketika temannya meringis menahan sakit.

Membuat rencana: Sebelum buru-buru memarahi anak dan memberi hukuman, ajaklah dia bicara dari hati ke hati mengenai penyebab dia memperlakukan temannya dengan buruk. Bila dia mengejek teman karena pengaruh teman-teman lainnya, diskusikan pengaruh pergaulan yang buruk dengannya. Doronglah dia meminta maaf pada temannya. Minta maaf menunjukkan kebesaran hati sebagi seorang manusia.

Pepatah mengatakan, “Dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak.” Seorang anak tidak dapat tumbuh dengan benar dukungan yang baik dari semua pihak. Seorang guru tidak dapat mendidik anak sendirian, diperlukan kerjasama dari orangtua murid untuk memastikan pendidikan yang diterima anak menghasilkan buah yang maksimal. Tidak perlu kaget atau panik, apalagi bersikap defensif bila Anda dipanggil pihak sekolah, karena ini merupakan hal yang wajar dalam proses mendidik anak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s